Minggu, 24 April 2016

RENUNGAN SURAT AR-RAHMAN

Assalamu'alaikum warrah matullahi wabarakaatuh.
Saudaraku yang dirahmati ALLAH...
Didalam Surat Ar-Rahman ada pengulangan satu ayat yg berbunyi :

فَبِأَيِّ آلاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ
"
Fabiayyi aala 'i rabbi-kumaa tukadzdzibaan"

Artinya :
"Maka Nikmat Tuhan-mu yg manakah yang 'Kamu Dustakan'?"
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Kalimat ini diulang-ulang sebanyak 31x oleh Allahu Subhanahu Wa Ta'ala. Apa gerangan makna kalimat tsb ?
Setelah Allah uraikan bbrp nikmat yg telah dianugerahkan ke kita, lalu Allah bertanya :
~~~~~~~~~~~~~~~~~~
"Maka Nikmat Tuhan-mu yang manakah yang 'Kamu Dustakan'?"
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
🌿Menarik utk diperhatikan bhw Allah menggunakan kata "DUSTA", bukan kata "INGKAR".
Hal ini menunjukkan bahwa Nikmat yang Allah berikan kpd manusia itu tidak bisa diingkari keberadaannya.
Yang sering dilakukan manusia adalah 'MenDustakan' nya.
Dusta berarti 'Menyembunyikan Kebenaran'.
Manusia sebenarnya tahu bahwa mereka telah 'Diberi Nikmat' oleh Allah, tapi mereka 'Menyembunyikan Kebenaran itu, sehingga mereka
~~~~~~~~~~~~~~~~~
MENDUSTAKANNYA!
~~~~~~~~~~~~~~~~~
✳Bukankah kalau kita mendapat rezeki banyak, kita katakan bahwa itu karena hasil dari 'Kerja Keras' kita???
✳Kalau kita berhasil meraih gelar Sarjana, itu karena 'Otak Kita' yang cerdas???
✳Kalau kita sehat, jarang sakit, itu karena kita 'Pandai Menjaga' Pola Makan & Rajin ber-Olah Raga, dsb.
Semua nikmat yang kita peroleh seakan-akan hanya karena usaha kita.
Tanpa sadar kita telah
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Melupakan Peranan Allah,
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
» kita sepelekan kehadiran Allah pada semua keberhasilan kita,
» kita Dustakan bahwa sesungguhnya nikmat itu semuanya datang dari Allah.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
"Maka Nikmat Tuhan-mu yang manakah yang Kamu Dustakan?"
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Kita telah bergelimang kenikmatan :
» Harta,
» Jabatan,
» Pasangan Hidup,
» Anak2 yang telah kita miliki.
~~~~~~~~~~~~~~~~
Ingatlah....
Semua Nikmat itu
akan Ditanya pada
Hari Kiamat Kelak.
~~~~~~~~~~~~~~~~
"Sungguh kamu pasti akan ditanya pada hari itu akan 'Nikmat' yang kamu peroleh saat ini"
(QS At-Takatsur : 8)

Sudah siapkah kita menjawab & Mempertanggung Jawabkannya ?
"Dan jika kamu menghitung Nikmat2 Allah, niscaya kamu tidak akan sanggup menghitungnya.
(QS An-Nahl : 18)

Tidak patutkah kita bersyukur kepada-NYA?
» Ucapkan Alhamdulillah,
» Berhentilah mengeluh,
» dan Jalani Hidup ini dengan ikhlas sebagai bagian dari
~~~~~~~~~~~~~~
'Rasa Syukur' kita.
~~~~~~~~~~~~

Subhanallah
Semoga kita dapat mengambil pengetahuan bermanfaat yang bernilai ibadah lewat tulisan ini dan mengamalkan dalam kehidupan sehari - hari.

Dan semoga  Allah selalu memberi kemudahan dari setiap masalah yang kita hadapi. Aamiin yaa rabbal alamin.

Rabu, 06 April 2016

DOKTER WANITA CERDAS ITU BERNAMA A'ISYAH RADHIALLAHU 'ANHU

-Beliau pintar dan cerdas, memiliki banyak keutamaan, serta ahli dalam ilmi fikh, kedokteran dan sejarah Arab/syair Arab

-Beliau cerdas menganalisa dan sering bertanya mengenai gejala-gejal penyakit serta metode pengobatannya, tatkala keluarganya sakit khususnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam

Kecerdasan ‘Aisyah radhiallahu ‘anha tercermin dari pintarnya ia juga dalam ilmu kedokteran yang membuat orang lain kagum, ia hanya sekedar mendengar dan menyaksikan tanpa ada yang mengajarkan secara langsung.

Hisyam bin Urwah menceritakan dari ayahnya yang berkata,

وقال هشام بن عروة عن أبيه قال : لقد صحبت عائشة فما رأيت أحداً قط كان أعلم بآية أنزلت ، ولا بفريضة ، ولا بسنة ، ولا بشعر ، ولا أروى له ، ولا بيوم من أيام العرب ، ولا بنسب ، ولا بكذا ، ولا بكذا ، ولا بقضاء ، ولا طب منها ، فقلت لها : يا خالة ، الطب من أين علمت ؟ فقالت : كنت أمرض فينعت لي الشيء ، ويمرض المريض فينعت له ، وأسمع الناس ينعت بعضهم لبعض فأحفظه

“Sungguh aku telah bertemu dengan Aisyah, maka aku tidak mendapatkan seorangpun yang lebih pintar darinya tentang Al Qur’an, hal-hal yang fardhu, sunnah, sya’ir, yang paling banyak meriwayatkan, sejarah Arab, ilmu nasab, ilmu ini, ilmu itu dan ilmu qhadi dan ilmu kedokteran, maka aku bertanya kepada beliau, “Wahai bibi, kepada siapa anda belajar tentang ilmu kedokteran?” Maka beliau menjawab, “Tatkala aku sakit, maka aku perhatikan gejala-gejalanya dan aku mendengar dari orang-orang menceritakan perihal sakitnya, kemudian aku menghafalnya.” [1]

Suatu saat Hisyam bin Urwah berkata kepada ‘Aisyah radhiallahu ‘anha,

هشام بن عروة قال كان عروة يقول لعائشة يا أمتاه لا أعجب من فقهك أقول زوجة رسول الله صلى الله عليه و سلم وابنة أبي بكر ولا أعجب من علمك بالشعر وأيام الناس أقول ابنة أبي بكر وكان أعلم الناس ولكن أعجب من علمك بالطب كيف هو ومن أين هو وما هو قال فضربت على منكبي ثم قالت أي عرية إن رسول الله صلى الله عليه و سلم كان يسقم في آخر عمره فكانت تقدم عليه الوفود من كل وجه فتنعت له فكنت أعالجه فمن ثم

“Wahai ibu (ummul mukminin), saya tidak heran/takjub engkau pintar ilmu fiqh karena engkau adalah Istri Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan anak Abu Bakar. Saya juga tidak heran/takjub engkau ointar ilmu Sya’ir dan sejarah manusia (Arab) karena engkau adalah anak Abu Bakar dan Abu bakar adalah manusia yang paling pandai (mengenai sya’ir dan sejarah Arab). Akan tetapi saya heran/takjub engkau pintar ilmu kedokteran, bagaimana dan darimana engkau mempelajarinya?

Kemudian ia memegang kedua pundakku dan berkata,

Setiap utusan kabilah yang datang dari berbagai penjuru yang datang untuk mengobati sakit Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pada akhir hayatnya, maka aku mengamati/pelajari dari mereka dan aku mengobati dengan ilmu dari sana.”[2]

Berkata Ibnu Abdil Barr,

أن عائشة كانت وحيدة بعصرها في ثلاثة علوم علم الفقه وعلم الطب وعلم الشعر

“Aisyah adalah satu-satunya wanita di zamannya yang memiliki kelebihan dalam tiga bidang ilmu: ilmu fiqih, ilmu kedokteran, dan ilmu syair.”

Kecerdasan dan keutamaan ‘Aisyah radhiallahu ‘anha

Kecerdasan ‘Aisyah radhiallahu ‘anha diakui oleh banyak para sahabat dan murid-murid beliau.

Berkata az-Zuhri,

قال الزُّهريُّ: لو جُمِع عِلمُ عائشة إلى عِلمِ جميعِ النساء، لكان علمُ عائشةَ أفْضلَ

“Apabila ilmu Aisyah dikumpulkan dengan ilmu seluruh para wanita lain, maka ilmu Aisyah lebih utama.”[3]

Berkata Atha’,

قَالَ عَطَاءُ بنُ أَبِي رَبَاحٍ: كَانَتْ عَائِشَةُ أَفْقَهَ النَّاسِ، وَأَحْسَنَ النَّاسِ رَأْياً فِي العَامَّةِ

“Aisyah adalah wanita yang paling faqih dan pendapat-pendapatnya adalah pendapat yang paling membawa kemaslahatan untuk umum.”[4]

Demikianlah sehingga ulama mengatakan bahwa salah satu hikmah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menikahi ‘Aisyahradhiallahu ‘anha adalah tersebarnya ilmu agama Islam melalui kecerdasan ‘Aisyah sebagai Istri dan orang yang paling dekat dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata,

وتأثير عائشة في آخر الإسلام، وحمل الدين، وتبليغه إلى الأمة، وإدراكها من العلم ما لم تشاركها فيه خديجة ، ولا غيرها مما تميزت به عن غيرها ) مجموع الفتاوى

“Peran Aisyah di akhir Islam adalah membawa ilmu agama, menyampaikannya kepada umat, memahami agama yang peran ini tidak ada pada khadijah dan tidak pula pada istri-istri yang lain yang membuat Aisyah istimewa dibanding yang lain”[5]

Demikianlah keutamaan ‘Aisyah sampai-sampai Nabi Shalallahu alaihi wasalam bersabda,

كَمُلَ مِنَ الرِّجَالِ كَثِيْرٌ وَلَمْ يَكْمُلْ مِنَ النِّسَاءِ إِلاَّ مَرْيَمُ بِنْتُ عِمْرَانَ ، وَآسِيَةُ امْرَأَةُ فِرْعَوْنَ ، وَفَضْلُ عَائِشَةَ عَلىَ النِّسَاءِ كَفَضْلِ الثَّرِيْدِ عَلىَ سَائِرِ الطَّعَامِ

“Banyak di antara kaum laki-laki yang sempurna, akan tetapi tidak ada wanita yang sempurna kecuali Maryam bintu ‘Imran, Asiyah istri Fir’aun. Dan keutamaan ‘Aisyah atas kaum wanita seperti keutamaan tsarid (bubur yang sangat disukai oleh Rasul Shalallahu alaihi wasalam) atas seluruh makanan.”[6]

Penyusun: dr. Raehanul Bahraen


KISAH RASULULLAH YANG MENCIUM TANGAN SI TUKANG BATU

Kisah Teladan Islami kali ini akan membagi tentang Si Tukang Batu Yang Di Cium Rasulullah.
Diriwayatkan pada saat itu Rasulullah baru tiba dari Tabuk, peperangan dengan bangsa Romawi yang kerap menebar ancaman pada kaum muslimin. Banyak sahabat yang ikut beserta Nabi dalam peperangan ini. Tidak ada yang tertinggal kecuali orang-orang yang berhalangan dan ada uzur.

Saat mendekati kota Madinah, di salah satu sudut jalan, Rasulullah berjumpa dengan seorang tukang batu. Ketika itu Rasulullah melihat tangan buruh tukang batu tersebut melepuh, kulitnya merah kehitam-hitaman seperti terpanggang matahari.

Sang manusia Agung itupun bertanya, “Kenapa tanganmu kasar sekali?”

Si tukang batu menjawab, “Ya Rasulullah, pekerjaan saya ini membelah batu setiap hari, dan belahan batu itu saya jual ke pasar, lalu hasilnya saya gunakan untuk memberi nafkah keluarga saya, karena itulah tangan saya kasar.”

Rasulullah adalah manusia paling mulia, tetapi orang yang paling mulia tersebut begitu melihat tangan si tukang batu yang kasar karena mencari nafkah yang halal, Rasul pun menggenggam tangan itu, dan menciumnya seraya bersabda,

“Hadzihi yadun la tamatsaha narun abada”, ‘inilah tangan yang tidak akan pernah disentuh oleh api neraka selama-lamanya’.

* Rasulullahl tidak pernah mencium tangan para Pemimpin Quraisy, tangan para Pemimpin Khabilah, Raja atau siapapun. Sejarah mencatat hanya putrinya Fatimah Az Zahra dan tukang batu itulah yang pernah dicium oleh Rasulullah. Padahal tangan tukang batu yang dicium oleh Rasulullah justru tangan yang telapaknya melepuh dan kasar, kapalan, karena membelah batu dan karena kerja keras.

Suatu ketika seorang laki-laki melintas di hadapan Rasulullah. Orang itu di kenal sebagai pekerja yang giat dan tangkas. Para sahabat kemudian berkata, “Wahai Rasulullah, andai bekerja seperti dilakukan orang itu dapat digolongkan jihad di jalan Allah (Fi sabilillah), maka alangkah baiknya.” Mendengar itu Rasul pun menjawab, “Kalau ia bekerja untuk menghidupi anak-anaknya yang masih kecil, maka itu fi sabilillah; kalau ia bekerja untuk menghidupi kedua orang tuanya yang sudah lanjut usia, maka itu fi sabilillah; kalau ia bekerja untuk kepentingan dirinya sendiri agar tidak meminta-minta, maka itu fi sabilillah.” (HR Thabrani)

* Orang-orang yang pasif dan malas bekerja, sesungguhnya tidak menyadari bahwa mereka telah kehilangan sebagian dari harga dirinya, yang lebih jauh mengakibatkan kehidupannya menjadi mundur. Rasulullah amat prihatin terhadap para pemalas.

”Maka apabila telah dilaksanakan shalat, bertebaranlah kamu di muka bumi dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung”. (QS. Al-Jumu’ah 10)

”Dan Allah menjadikan bumi untukmu sebagai hamparan, supaya kamu menjalani jalan-jalan yang luas di bumi ini”. (QS Nuh19-20)

* ”Siapa saja pada malam hari bersusah payah dalam mencari rejeki yang halal, malam itu ia diampuni”. (HR. Ibnu Asakir dari Anas)

”Siapa saja pada sore hari bersusah payah dalam bekerja, maka sore itu ia diampuni”. (HR. Thabrani dan lbnu Abbas)

”Tidak ada yang lebih baik bagi seseorang yang makan sesuatu makanan, selain makanan dari hasil usahanya. Dan sesungguhnya Nabiyullah Daud, selalu makan dan hasil usahanya”. (HR. Bukhari)

”Sesungguhnya di antara dosa-dosa itu, ada yang tidak dapat terhapus dengan puasa dan shalat”. Maka para sahabat pun bertanya: “Apakah yang dapat menghapusnya, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: ”Bersusah payah dalam mencari nafkah.” (HR. Bukhari)

”Barangsiapa yang bekerja keras mencari nafkah untuk keluarganya, maka sama dengan pejuang dijaIan Allah ‘Azza Wa Jalla”. (HR. Ahmad)

Subhanallah...

Semoga bermanfaat.

Sumber : Dunia Islam

DOKTER WANITA CERDAS ITU BERNAMA A'ISYAH RADHIALLAHU 'ANHU

-Beliau pintar dan cerdas, memiliki banyak keutamaan, serta ahli dalam ilmi fikh, kedokteran dan sejarah Arab/syair Arab

-Beliau cerdas menganalisa dan sering bertanya mengenai gejala-gejal penyakit serta metode pengobatannya, tatkala keluarganya sakit khususnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam

Kecerdasan ‘Aisyah radhiallahu ‘anha tercermin dari pintarnya ia juga dalam ilmu kedokteran yang membuat orang lain kagum, ia hanya sekedar mendengar dan menyaksikan tanpa ada yang mengajarkan secara langsung.

Hisyam bin Urwah menceritakan dari ayahnya yang berkata,

وقال هشام بن عروة عن أبيه قال : لقد صحبت عائشة فما رأيت أحداً قط كان أعلم بآية أنزلت ، ولا بفريضة ، ولا بسنة ، ولا بشعر ، ولا أروى له ، ولا بيوم من أيام العرب ، ولا بنسب ، ولا بكذا ، ولا بكذا ، ولا بقضاء ، ولا طب منها ، فقلت لها : يا خالة ، الطب من أين علمت ؟ فقالت : كنت أمرض فينعت لي الشيء ، ويمرض المريض فينعت له ، وأسمع الناس ينعت بعضهم لبعض فأحفظه

“Sungguh aku telah bertemu dengan Aisyah, maka aku tidak mendapatkan seorangpun yang lebih pintar darinya tentang Al Qur’an, hal-hal yang fardhu, sunnah, sya’ir, yang paling banyak meriwayatkan, sejarah Arab, ilmu nasab, ilmu ini, ilmu itu dan ilmu qhadi dan ilmu kedokteran, maka aku bertanya kepada beliau, “Wahai bibi, kepada siapa anda belajar tentang ilmu kedokteran?” Maka beliau menjawab, “Tatkala aku sakit, maka aku perhatikan gejala-gejalanya dan aku mendengar dari orang-orang menceritakan perihal sakitnya, kemudian aku menghafalnya.” [1]

Suatu saat Hisyam bin Urwah berkata kepada ‘Aisyah radhiallahu ‘anha,

هشام بن عروة قال كان عروة يقول لعائشة يا أمتاه لا أعجب من فقهك أقول زوجة رسول الله صلى الله عليه و سلم وابنة أبي بكر ولا أعجب من علمك بالشعر وأيام الناس أقول ابنة أبي بكر وكان أعلم الناس ولكن أعجب من علمك بالطب كيف هو ومن أين هو وما هو قال فضربت على منكبي ثم قالت أي عرية إن رسول الله صلى الله عليه و سلم كان يسقم في آخر عمره فكانت تقدم عليه الوفود من كل وجه فتنعت له فكنت أعالجه فمن ثم

“Wahai ibu (ummul mukminin), saya tidak heran/takjub engkau pintar ilmu fiqh karena engkau adalah Istri Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan anak Abu Bakar. Saya juga tidak heran/takjub engkau ointar ilmu Sya’ir dan sejarah manusia (Arab) karena engkau adalah anak Abu Bakar dan Abu bakar adalah manusia yang paling pandai (mengenai sya’ir dan sejarah Arab). Akan tetapi saya heran/takjub engkau pintar ilmu kedokteran, bagaimana dan darimana engkau mempelajarinya?

Kemudian ia memegang kedua pundakku dan berkata,

Setiap utusan kabilah yang datang dari berbagai penjuru yang datang untuk mengobati sakit Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pada akhir hayatnya, maka aku mengamati/pelajari dari mereka dan aku mengobati dengan ilmu dari sana.”[2]

Berkata Ibnu Abdil Barr,

أن عائشة كانت وحيدة بعصرها في ثلاثة علوم علم الفقه وعلم الطب وعلم الشعر

“Aisyah adalah satu-satunya wanita di zamannya yang memiliki kelebihan dalam tiga bidang ilmu: ilmu fiqih, ilmu kedokteran, dan ilmu syair.”

Kecerdasan dan keutamaan ‘Aisyah radhiallahu ‘anha

Kecerdasan ‘Aisyah radhiallahu ‘anha diakui oleh banyak para sahabat dan murid-murid beliau.

Berkata az-Zuhri,

قال الزُّهريُّ: لو جُمِع عِلمُ عائشة إلى عِلمِ جميعِ النساء، لكان علمُ عائشةَ أفْضلَ

“Apabila ilmu Aisyah dikumpulkan dengan ilmu seluruh para wanita lain, maka ilmu Aisyah lebih utama.”[3]

Berkata Atha’,

قَالَ عَطَاءُ بنُ أَبِي رَبَاحٍ: كَانَتْ عَائِشَةُ أَفْقَهَ النَّاسِ، وَأَحْسَنَ النَّاسِ رَأْياً فِي العَامَّةِ

“Aisyah adalah wanita yang paling faqih dan pendapat-pendapatnya adalah pendapat yang paling membawa kemaslahatan untuk umum.”[4]

Demikianlah sehingga ulama mengatakan bahwa salah satu hikmah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menikahi ‘Aisyahradhiallahu ‘anha adalah tersebarnya ilmu agama Islam melalui kecerdasan ‘Aisyah sebagai Istri dan orang yang paling dekat dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata,

وتأثير عائشة في آخر الإسلام، وحمل الدين، وتبليغه إلى الأمة، وإدراكها من العلم ما لم تشاركها فيه خديجة ، ولا غيرها مما تميزت به عن غيرها ) مجموع الفتاوى

“Peran Aisyah di akhir Islam adalah membawa ilmu agama, menyampaikannya kepada umat, memahami agama yang peran ini tidak ada pada khadijah dan tidak pula pada istri-istri yang lain yang membuat Aisyah istimewa dibanding yang lain”[5]

Demikianlah keutamaan ‘Aisyah sampai-sampai Nabi Shalallahu alaihi wasalam bersabda,

كَمُلَ مِنَ الرِّجَالِ كَثِيْرٌ وَلَمْ يَكْمُلْ مِنَ النِّسَاءِ إِلاَّ مَرْيَمُ بِنْتُ عِمْرَانَ ، وَآسِيَةُ امْرَأَةُ فِرْعَوْنَ ، وَفَضْلُ عَائِشَةَ عَلىَ النِّسَاءِ كَفَضْلِ الثَّرِيْدِ عَلىَ سَائِرِ الطَّعَامِ

“Banyak di antara kaum laki-laki yang sempurna, akan tetapi tidak ada wanita yang sempurna kecuali Maryam bintu ‘Imran, Asiyah istri Fir’aun. Dan keutamaan ‘Aisyah atas kaum wanita seperti keutamaan tsarid (bubur yang sangat disukai oleh Rasul Shalallahu alaihi wasalam) atas seluruh makanan.”[6]

Penyusun: dr. Raehanul Bahraen