Rabu, 29 Juni 2016

PEMIMPIN YANG MEMPERHATIKAN URUSAN RAKYAT

 

PEMIMPIN sejati adalah pemimpin yang merasakan besarnya tanggung jawab kepemimpinan yang diembannya. Pemimpin sejati adalah pemimpin yang menghormati amanah kepemimpinan sebagai tugas suci. Pemimpin sejati adalah pemimpin yang rela berkorban dan berjuang demi kesejahteraan rakyatnya. Pemimpin sejati adalah pemimpin yang selalu mengedepankan kepentingan rakyat di atas ambisi pribadinya.

Dan tipe-tipe pemimpin sejati di atas ada dan melekat dalam diri Khalifah Umar bin Abdul Aziz.
Rakyat menjadi prioritas dalam kesejahteraan. Adil menjadi prioritas dalam melaksanakan hukum. Taqwa menjadi prioritas yang mendasari setiap kebijakan-kebijakan yang diambil. Sehingga ia mendapat cinta Allah dan diterima dengan baik oleh rakyat.

Allah Swt Maha Tahu dan Bijaksana. Sesuatu yang keluar dari hati, Allah sampaikan pula ke-dalam hati orang yang menerimanya. Ketulusan Umar bin Abdul Aziz dalam mengabdi untuk masyarakat, tanpa mengharap sedikitpun pamrih, balas jasa maupun sanjungan, ternyata dirasakan betul dampaknya oleh masyarakat. Sehingga mereka membalasnya dalam bentuk keta’atan kepadanya.

Mari kita simak penuturan Fathimah binti Abdul Malik mengenai ketulusan suaminya dalam memimpin ummat. Sebagai orang paling dekat dengan Umar bin Abdul Aziz, tentu ia betul-betul melihat hal itu dengan jelas. Fathimah baru menyampaikan itu ketika para ulama’ datang berta’ziyah ke rumah selepas meninggalnya Umar bin Abdul Aziz.

“Kedatangan kami kesini untuk mengucapkan belasungkawa padamu atas kematian Umar. Sungguh, kesedihan ini merata dirasakan seluruh ummat. Ceritakan kepada kami –semoga Allah merahmatimu- tentang keseharian Umar. Bagaimana kesehariannya di rumah? Karena yang paling mengetahui tentang seseorang adalah keluarganya.” papar para ulama’ kepada Fathimah.

“Demi Allah, sungguh Umar bukanlah orang yang shalat dan puasanya lebih banyak daripada kalian. Tapi demi Allah, aku tak pernah melihat orang yang sangat takut pada Allah melebihi Umar. Demi Allah, tempat yang menjadi akhir kesenangan seseorang adalah keluarganya. Saat itu aku dan dia hanya terpisah selimut. Tiba-tiba terdetik dalam hatinya sesuatu dari perintah Allah. Seketika ia bangkit layaknya bangkitnya seekor burung jika jatuh kedalam air. Iapun terlihat sedih. Kemudian menangis dengan keras. Sampai-sampai aku katakan, “Demi Allah, seperti mau keluar nyawanya dari jasad”. Lalu ia menyingkap selimut yang menaungi kami. Karena sayang padanya aku berkata, “Andaikata jarak kita dengan kepemimpinan ini sejauh jarah timur dan barat. Demi Allah, aku tak pernah melihat kesenangan sejak kami masuk kedalam (amanah kepemimpinan ummat ini).”

Bahkan dalam sebuah riwayat, Fathimah binti Abdul Malik mengatakan, bahwa yang menyebabkan Umar bin Abdul Aziz jatuh sakit selama dua puluh hari dan kemudian meninggal, karena ia sangat takut kepada Allah atas amanah memimpin ummat yang dibebankan kepadanya.

Disinilah bedanya seorang pemimpin yang berjalan tulus untuk rakyatnya dengan pemimpin yang hanya mementingkan urusan dirinya, keluarganya serta sanak keluarganya. Pengaruhnya akan dirasakan oleh rakyat. Karena itulah kita bisa melihat dari analisa sejarah kepemimpinan Umar bin Abdul Aziz, bahwa bukan hanya keadilan dan kesejahteraan semata yang merata, tapi juga keta’atan yang membumi.

HIKMAH MALAM LAILATUL QADAR

Bismillah Ar-Rahman Ar-Rahiim

》Apa ada tanda seseorang telah mendapatkan malam lailatul qadar?
》Bagaimana ia bisa tahu kalau ia mendapatkan malam Lailatul Qadar?

● Carilah Malam Lailatul Qadar
Kita diperintahkan untuk mencari lailatul qadar. Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha , Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ﺗَﺤَﺮَّﻭْﺍ ﻟَﻴْﻠَﺔَ ﺍﻟْﻘَﺪْﺭِ ﻓِﻰ ﺍﻟْﻌَﺸْﺮِ ﺍﻷَﻭَﺍﺧِﺮِ ﻣِﻦْ ﺭَﻣَﻀَﺎﻥَ

“Carilah lailatul qadar pada sepuluh malam terakhir dari bulan Ramadhan.”
(HR. Bukhari no. 2020 dan Muslim no. 1169)

Terjadinya lailatul qadar di malam-malam ganjil lebih memungkinkan daripada malam-malam genap. Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha
pula, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ﺗَﺤَﺮَّﻭْﺍ ﻟَﻴْﻠَﺔَ ﺍﻟْﻘَﺪْﺭِ ﻓِﻰ ﺍﻟْﻮِﺗْﺮِ ﻣِﻦَ ﺍﻟْﻌَﺸْﺮِ ﺍﻷَﻭَﺍﺧِﺮِ ﻣِﻦْ ﺭَﻣَﻀَﺎﻥَ

“ Carilah lailatul qadar di malam ganjil dari sepuluh malam terakhir di bulan Ramadhan .” (HR. Bukhari no. 2017)

Ganjil tersebut bisa dihitung dari awal bulan, maka malam yang dicari adalah malam ke-21, 23, 25, 27, dan 29. Namun bisa jadi pula lailatul qadar dihitung dari malam yang tersisa. Dalam hadits lain disebutkan,

ﻟِﺘَﺎﺳِﻌَﺔٍ ﺗَﺒْﻘَﻰ ﻟِﺴَﺎﺑِﻌَﺔٍ ﺗَﺒْﻘَﻰ ﻟِﺨَﺎﻣِﺴَﺔٍ ﺗَﺒْﻘَﻰ ﻟِﺜَﺎﻟِﺜَﺔٍ ﺗَﺒْﻘَﻰ

“ Bisa jadi lailatul qadar ada pada sembilan hari yang tersisa, bisa jadi ada pada tujuh hari yang tersisa, bisa jadi pula pada lima hari yang tersisa, bisa juga pada tiga hari yang tersisa ”
(HR. Bukhari).

Oleh karena itu, jika bulan Ramadhan ternyata 30 hari, berarti malam ketiga puluh adalah malam yang menggenapi. Jika dihitung dari hari terakhir, malam ke-22 berarti sembilan hari yang tersisa. Malam ke-24 berarti tujuh hari yang tersisa.

Inilah yang ditafsirkan oleh Abu Sa’id Al Khudri dalam hadits shahih. Inilah yang dilakukan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tanpa memilah-milah hari ganjil dan genap.

● Tanda Malam Lailatul Qadar

1. Keadaan matahari di pagi hari, terbit berwarna putih tanpa memancarkan sinar ke segala penjuru
Dari Ubay bin Ka’ab radhiyallahu ‘anhu , ia berkata,

ﻫِﻰَ ﺍﻟﻠَّﻴْﻠَﺔُ ﺍﻟَّﺘِﻰ ﺃَﻣَﺮَﻧَﺎ ﺑِﻬَﺎ ﺭَﺳُﻮﻝُ ﺍﻟﻠَّﻪِ - ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ - ﺑِﻘِﻴَﺎﻣِﻬَﺎ ﻫِﻰَ ﻟَﻴْﻠَﺔُ ﺻَﺒِﻴﺤَﺔِ ﺳَﺒْﻊٍ ﻭَﻋِﺸْﺮِﻳﻦَ ﻭَﺃَﻣَﺎﺭَﺗُﻬَﺎ ﺃَﻥْ ﺗَﻄْﻠُﻊَ ﺍﻟﺸَّﻤْﺲُ ﻓِﻰ ﺻَﺒِﻴﺤَﺔِ ﻳَﻮْﻣِﻬَﺎ ﺑَﻴْﻀَﺎﺀَ ﻻَ ﺷُﻌَﺎﻉَ ﻟَﻬَﺎ .

“Malam itu adalah malam yang cerah yaitu malam ke dua puluh tujuh (dari bulan Ramadhan). Dan tanda-tandanya ialah pada pagi harinya matahari terbit berwarna putih tanpa memancarkan sinar ke segala penjuru.”
(HR. Muslim no. 762)

2. Kedaan malam tidak panas, tidak juga dingin, matahari di pagi harinya tidak begitu cerah nampak kemerah-merahan.

Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma , Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ﻟَﻴْﻠَﺔُ ﺍﻟﻘَﺪَﺭِ ﻟَﻴْﻠَﺔٌ ﺳَﻤْﺤَﺔٌ ﻃَﻠَﻘَﺔٌ ﻟَﺎ ﺣَﺎﺭَﺓً ﻭَﻟَﺎ ﺑَﺎﺭِﺩَﺓً ﺗُﺼْﺒِﺢُ ﺍﻟﺸَﻤْﺲُ ﺻَﺒِﻴْﺤَﺘُﻬَﺎ ﺿَﻌِﻴْﻔَﺔٌ ﺣَﻤْﺮَﺍﺀ

“Lailatul qadar adalah malam yang penuh kemudahan dan kebaikan, tidak begitu panas, juga tidak begitu dingin, pada pagi hari matahari bersinar tidak begitu cerah dan nampak kemerah-merahan .”
(HR. Ath Thoyalisi dan Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman , lihat Jaami’ul Ahadits 18: 361. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih. Lihat Shahihul Jaami’ no. 5475)

Namun tanda tersebut tak perlu dicari-cari. Ibnu Hajar Al Asqalani rahimahullah berkata,

ﻭَﻗَﺪْ ﻭَﺭَﺩَ ﻟِﻠَﻴْﻠَﺔِ ﺍﻟْﻘَﺪْﺭِ ﻋَﻠَﺎﻣَﺎﺕٌ ﺃَﻛْﺜَﺮُﻫَﺎ ﻟَﺎ ﺗَﻈْﻬَﺮُ ﺇِﻟَّﺎ ﺑَﻌْﺪَ ﺃَﻥْ ﺗَﻤْﻀِﻲ

“Ada beberapa dalil yang membicarakan mengenai tanda-tanda lailatul qadar. Namun itu semua tidaklah nampak kecuali setelah malam tersebut berlalu.”
(Fath Al-Bari , 4 : 260)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun tidak mencari-cari tanda. Yang dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah memperbanyak ibadah saja di akhir-akhir Ramadhan,

ﻋَﻦْ ﻋَﺎﺋِﺸَﺔَ ﺭَﺿِﻲَ ﺍَﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻨْﻬَﺎ ﻗَﺎﻟَﺖْ : – ﻛَﺎﻥَ ﺭَﺳُﻮﻝُ ﺍَﻟﻠَّﻪِ – ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ – ﺇِﺫَﺍ ﺩَﺧَﻞَ ﺍَﻟْﻌَﺸْﺮُ - ﺃَﻱْ : ﺍَﻟْﻌَﺸْﺮُ ﺍَﻟْﺄَﺧِﻴﺮُ ﻣِﻦْ ﺭَﻣَﻀَﺎﻥَ - ﺷَﺪَّ ﻣِﺌْﺰَﺭَﻩُ , ﻭَﺃَﺣْﻴَﺎ ﻟَﻴْﻠَﻪُ , ﻭَﺃَﻳْﻘَﻆَ ﺃَﻫْﻠَﻪُ – ﻣُﺘَّﻔَﻖٌ ﻋَﻠَﻴْﻪِ

Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha , ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa ketika memasuki 10 Ramadhan terakhir, beliau bersungguh-sungguh dalam ibadah (dengan meninggalkan istri-istrinya), menghidupkan malam-malam tersebut dengan ibadah, dan membangunkan istri-istrinya untuk beribadah.”
(HR. Bukhari no. 2024 dan Muslim no. 1174)

● Tanda Seseorang Mendapatkan Malam Lailatul Qadar

Syaikh Khalid Al-Mushlih hafizhahullah
menyatakan bahwa tidak ada tanda khusus jika seseorang telah mendapatkan Lailatul Qadar. Terang beliau, kalau kita memperbanyak beribadah terus menerus di sepuluh hari terakhir Ramadhan, tentu akan mendapatkan malam penuh kemuliaan tersebut. Demikian yang beliau utarakan dalam salah satu video beliau di sini .
Yang patut pula dipahami bahwa cara menghidupkan malam tersebut bisa dengan mengerjakan shalat Isya, shalat tarawih (shalat malam) dan shalat shubuh. Mengerjakan ketiga shalat ini dapat dicatat telah mengerjakan shalat semalam suntuk.

Dari ‘Utsman bin ‘Affan radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ﻣَﻦْ ﺷَﻬِﺪَ ﺍﻟْﻌِﺸَﺎﺀَ ﻓِﻰ ﺟَﻤَﺎﻋَﺔٍ ﻛَﺎﻥَ ﻟَﻪُ ﻗِﻴَﺎﻡُ ﻧِﺼْﻒِ ﻟَﻴْﻠَﺔٍ ﻭَﻣَﻦْ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟْﻌِﺸَﺎﺀَ ﻭَﺍﻟْﻔَﺠْﺮَ ﻓِﻰ ﺟَﻤَﺎﻋَﺔٍ ﻛَﺎﻥَ ﻟَﻪُ ﻛَﻘِﻴَﺎﻡِ ﻟَﻴْﻠَﺔٍ

“ Siapa yang menghadiri shalat ‘Isya berjamaah, maka baginya pahala shalat separuh malam. Siapa yang melaksanakan shalat ‘Isya dan Shubuh berjamaah, maka baginya pahala shalat semalam penuh .”
(HR. Muslim no. 656 dan Tirmidzi no. 221).
Dari Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu , Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ﺇِﻥَّ ﺍﻟﺮَّﺟُﻞَ ﺇِﺫَﺍ ﻗَﺎﻡَ ﻣَﻊَ ﺍﻹِﻣَﺎﻡِ ﺣَﺘَّﻰ ﻳَﻨْﺼَﺮِﻑَ ﺣُﺴِﺐَ ﻟَﻪُ ﺑَﻘِﻴَّﺔُ ﻟَﻴْﻠَﺘِﻪِ

“ Sesungguhnya jika seseorang shalat bersama imam hingga imam selesai, maka ia dihitung mendapatkan pahala shalat di sisa malamnya. ”
(HR. Ahmad 5: 163. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth menyatakan bahwa sanad hadits ini shahih sesuai syarat Muslim)

Semoga Allah memudahkan kita untuk mendapatkan keutamaan Lailatul Qadar.

Wallahu'alam biishawab

Senin, 27 Juni 2016

KEUTAMAAN SHALAT DHUHA

1. MENGHAPUS DOSA-DOSA
Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dari Abu Hurairah RA, ia berkata: Rasulullah bersabda, "Barangsiapa menjaga dua raka'at shalat dhuha maka dosa-dosanya akan di ampuni walaupun sebanyak buih di lautan."

Diriwayatkan oleh Abu Ya'la bahwa Nabi SAW bersabda, “Barangsiapa ketika matahari menyambutnya, ia wudhu' dan menyempurnakan wudhu'nya lalu ia berdiri untuk melaksanakan shalat dua raka'at maka akan di ampuni dosa-dosanya sebagaimana ketika dia di lahirkan oleh ibunya."

2. TERMASUK GOLONGAN ORANG-ORANG YANG BERTAUBAT
Diriwayatkan oleh Ath Thabrani dari Abu Hurairah RA, ia berkata, Rasulullah bersabda, "Tidaklah seseorang melakukan shalat dhuha kecuali seorang yang bertaubat."

Dalam riwayat lain di sebutkan, "Shalat dhuha adalah shalatnya orang-orang yang bertaubat. " Di riwayatkan oleh Al Hakim dengan syarat Muslim.

3. MENDAPATKAN PAHALANYA UMRAH
Diriwayatkan oleh Abu Daud dari Abu Umamah RA, bahwa Rasulullah bersabda, "Barangsiapa yang keluar dari rumahnya dalam keadaan suci untuk melaksanakan shalat wajib maka pahalanya adalah seperti pahala haji, dan barangsiapa yang melakukan shalat dhuha maka pahalanya adalah seperti pahala umrah dan melaksanakan shalat setelah shalat tanpa ada kesia-siaan antara keduanya maka ia akan mendapat tempat yang tinggi.

4. TERMASUK DALAM GOLONGAN ORANG-ORANG YANG AHLI IBADAH
Diriwayatkan oleh Ath Thabrani dari Abu Darda', ia berkata: Bahwa Nabi SAW bersabda: “Barangsiapa yang melaksanakan shalat dhuha dua raka'at maka ia tidak termasuk golongan orang-orang yang lalai, barangsiapa yang melaksanakannya empat raka'at maka ia akan tercatat sebagai orang yang ahli ibadah, barangsiapa yang melaksanakannya enam raka'at maka akan di cukupkan baginya hari itu, dan barangsiapa yang melaksanakannya dua belas raka'at maka Allah akan membangunkan rumah untuknya di surga, tidak ada siang dan malam kecuali Allah memiliki pemberian yang lebih baik yang Allah berikan kepadanya kecuali Allah memberi ilham kepada hamba-Nya untuk berdzikir kepada-Nya."

5. MASUK SURGA MELALUI PINTU DHUHA.
Diriwayatkan oleh Ath Thabrani , bahwa Nabi SAW bersabda, "Sesungguhnya di dalam surga terdapat pintu yang bernama pintu dhuha, jika tiba hari kiamat maka berserulah seorang penyeru, "Manakah mereka yang terus menerus melakukan shalat dhuha? Inilah pintu kalian maka masukilah surga dengan rahmat Allah Ta'ala."

6. ALLAH AKAN MENCUKUPI KEBUTUHANNYA PADA HARI ITU dan MENDAPATKAN JAMINAN ALLAH
Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dari Abu Darda' dan Abu Dzarr RA bahwa Rasulullah SAW bersabda dari Allah bahwa Allah berfirman, "Wahai anak Adam shalatlah untukku empat raka'at pada permulaan siang maka Aku akan mencukupi pada penghabisannya."

7. MENYEMPURNAKAN SHADAQAH TERHADAP SEMUA ANGGOTA TUBUHNYA
Diriwayatkan oleh Muslim dari Abuu Dzarr RA, bahwa Nabi SAW bersabda: "Setiap persendian anggota tubuh di antara kalian harus di shadaqahi, dan setiap tasbih adalah shadaqah, setiap tahmid adalah shadaqah, setiap tahlil adalah shadaqah, setiap takbir adalah shadaqah, mengajak pada kebaikan adalah shadaqah, mencegah kemungkaran adalah shadaqah dan yang akan membagikan seluruh shadaqah itu adalah shalat dhuhanya yang dua raka'at."

Diriwayatkan oleh Imam Ahmad bahwa Nabi SAW bersabda, "Dalam diri manusia terdapat tiga ratus enam puluh sendi dan baginya hendaknya bershadaqah kepada setiap sendinya dengan satu shadaqah." Para sahabat bertanya, "Siapa yang sanggup melakukan hal itu wahai Rasulullah?" beliau bersabda, "Duduk di dalam masjid maka akan menutupinya dan sesuatu yang engkau jauhkan dari jalanan dan jika kalian tak sanggup maka shalat dhuha akan mencukupi itu semua darimu."

Minggu, 26 Juni 2016

MINUM OBAT PENCEGAH HAID PADA BULAN RAMADHAN, BOLEHKAH?

Tanya:
Bolehkah seorang wanita meminum obat pencegah haid pada bulan Ramadhan agar dapat berpuasa sebulan penuh?

Jawab:

BULAN Ramadhan memang bulan yang paling tepat untuk memperbanyak ibadah, berlomba-lomba dalam kebaikan, dan meraih pahala sebanyak-banyaknya. Namun, bagi sebagian besar wanita, ada sesuatu yang dirasa kurang afdhal (meski sebenarnya tidak begitu penting) atau rasa “bersalah” yang melanda manakala di tengah-tengah bulan suci ini sang tamu bulanan datang dan menghalangi seorang wanita untuk berpuasa. Selain itu, ada keinginan yang mendorong para wanita ini untuk berpuasa secara sempurna bersama dengan suami dan keluarganya, serta rasa berat untuk mengqadha puasa di hari lain. Maka “solusi”nya adalah dengan meminum pil atau obat-obatan yang dapat mencegah haid.

Nah, dalam masalah ini, ada beberapa pendapat para ulama yang perlu kita ketahui:

Pertama, para ulama berpendapat tentang bolehnya meminum obat pencegah haid dengan syarat obat-obatan ini tidak membahayakan pemakainya. Baik itu bahaya dalam jangka pendek maupun jangka panjang. Pendapat ini dikeluarkan oleh beberapa ulama seperti Syaikh Abdullah bin Humaid rahimahullah dan Syaikh Ibnu Baz rahimahullah.

Syaikh Ibnu Baz berkata, “Tidak masalah bagi wanita untuk menggunakan obat pencegah haid, menghalangi datang bulan selama bulan Ramadhan, sehingga dia bisa berpuasa bersama kaum muslimin lainnya. Dan jika ada cara lain selain mengonsumsi obat untuk menghalangi terjadinya haid, hukumnya boleh, selama tidak ada hal yang dilarang syariat dan tidak berbahaya.”

Selain itu, hendaknya seorang wanita muslimah meminta ijin atau minimal mendiskusikan hal ini terlebih dahulu dengan suami atau walinya. Karena bagaimanapun, seorang wanita adalah tanggungan walinya. Bila terjadi apa-apa pada wanita tersebut, walinya juga akan dimintai pertanggungjawaban.

Kedua, para ulama berpendapat tentang tidak disarankannya bagi seorang wanita untuk meminum obat-obat pencegah haid. Obat-obatan, bagaimanapun terbuat dari bahan-bahan kimiawi yang tentu saja memiliki efek samping bagi tubuh. Banyak pula dokter yang tidak menyarankan konsumsi obat-obatan ini karena dapat mengganggu stabilitas hormon, membahayakan rahim, dan efek samping lainnya yang dapat membahayakan tubuh. Selain itu, haid atau menstruasi adalah kodrat seorang wanita. Maka ketika seorang wanita ingin mencegah terjadinya haid, ditakutkan hal tersebut termasuk dalam mengingkari kodrat atau fitrahnya. Ada banyak hikmah di balik haidnya seorang wanita.

Pendapat ini dikemukakan oleh beberapa ulama, seperti syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah. Beliau mengemukakan beberapa dalil, yaitU, “Nabi ﷺ pernah menemui Aisyah (di kemahnya) ketika Aisyah membersamai Rasulullah pada Haji Wada’. Ketika itu, Aisyah telah melakukan ihram untuk umrah, namun tiba-tiba datang haid sebelum sampai ke Mekkah. Maka Nabi ﷺ menemui Aisyah, sementara Aisyah sedang menangis. Maka Beliau ﷺ bertanya, “Apa yang menyebabkan kamu menangis?” Aisyah menjawab bahwa dia sedang haid. Nabi bersabda, “Ini adalah keadaan yang telah Allah tetapkan untuk para putri Adam.”

Nabi ﷺ bersabda, “Tidak boleh melakukan yang berbahaya (kepada diri sendiri) dan tidak boleh menimbulkan bahaya (kepada orang lain),” (HR. Ibnu Majah – hadits ini saling memiliki beberapa jalan yang saling menguatkan menurut Imam Nawawi rahimahullah).

Dengan demikian, seorang wanita Muslimah hendaknya mencari jalan yang terbaik bagi dirinya sendiri. Jika memang obat-obatan pencegah haid ini benar-benar tidak menimbulkan efek samping, maka boleh mengonsumsinya untuk melancarkan puasa sebulan penuh. Namun bila dengan konsultasi ahli ternyata obat-obatan ini memiliki efek samping yang membahayakan tubuh, maka hendaknya jangan dikonsumsi.

Masih banyak jalan lain untuk tetap dapat beribadah dan menuai pahala di bulan Ramadhan meskipun sedang haid. Di antaranya adalah:

1. Membaca Al-Qur’an tanpa menyentuh mushaf, boleh dengan menggunakan media elektronik seperti ponsel, tablet, komputer, atau Al-Qur’an digital lainnya. Jika tidak punya perangkat elektronik, boleh membaca Al-Qur’an dengan menggunakan pembatas (seperti sarung tangan, misalnya) saat menyentuh mushafnya.
2. Memperbanyak shadaqah dan infak.
3. Memperbanyak dzikir dan do’a.
4. Memperbanyak membaca buku-buku pengetahuan Islam dan mengikuti kajian Islami.
5. Berbakti kepada kedua orangtua dan suami.

Wallahu a’lam

Senin, 20 Juni 2016

TIGA KELOMPOK MANUSIA DI BULAN RAMADHAN

BULAN ramadhan meruapkan bulan suci yang mulia. Diharapkan, manusia mencapai derajat takwa. Namun, tetap saja di bulan ini ada beberapa kelompok manusia yang tidak sesuai dengan tujuan puasa, setidaknya ada tiga kelompok manusia di bulan Ramadhan.

Pakar tafsir Qatada, seperti yang dinukil oleh At-Thabari, menejaskan bahwa manusia itu terbagi kedalam tiga golongan, baik di dunia, ketika meninggal dunia, dan nanti diakhirat. Di dunia manusia terbagi ke dalam kelompok mukmin, munafik dan musyrik. Sedangkan ketika meninggal dunia maka sesuai dengan firman Allah swt:

فَأَمَّا إِنْ كَانَ مِنَ الْمُقَرَّبِينَ فَرَوْحٌ وَرَيْحَانٌ وَجَنَّةُ نَعِيمٍ وَأَمَّا إِنْ كَانَ مِنْ أَصْحَابِ الْيَمِينِ فَسَلامٌ لَكَ مِنْ أَصْحَابِ الْيَمِينِ وَأَمَّا إِنْ كَانَ مِنَ الْمُكَذِّبِينَ الضَّالِّينَ فَنزلٌ مِنْ حَمِيمٍ وَتَصْلِيَةُ جَحِيمٍ

“Adapun jika Dia (orang yang mati) Termasuk orang-orang yang didekatkan (kepada Allah), maka dia memperoleh ketenteraman dan rezki serta jannah kenikmatan, dan Adapun jika dia termasuk golongan kanan, maka keselamatanlah bagimu karena kamu dari golongan kanan, dan adapun jika dia termasuk golongan yang mendustakan lagi sesat, maka dia mendapat hidangan air yang mendidih, dan dibakar di dalam Jahannam”. (QS. Al-Waqiah: 88-94)

Adapun diakhirat, maka manusia juga terbagi kedalam tiga kelompok sesuai dengan firman Allah swt:

فَأَصْحَابُ الْمَيْمَنَةِ مَا أَصْحَابُ الْمَيْمَنَةِ وَأَصْحَابُ الْمَشْأَمَةِ مَا أَصْحَابُ الْمَشْأَمَةِ وَالسَّابِقُونَ السَّابِقُونَ أُولَئِكَ الْمُقَرَّبُونَ

“Yaitu golongan kanan, alangkah mulianya golongan kanan itu, dan golongan kiri, alangkah sengsaranya golongan kiri itu, dan orang-orang yang beriman paling dahulu”. (QS. Al-Waqiah:8-10)

Menurut At-Thabari, penjelasan Qatadah ini lebih mengarah kepada sebuah kesimpulan bahwa orang-orang yang termasuk dalam katagori zholim pada ayat QS. Fathir: 32 itu tempatnya di neraka. Namun kita juga tidak menutup mata bahwa ada juga yang berpendapat bahwa orang-orang zholim tetap berada di syurga selagi mereka tidak mensyirikkan Allah swt, ini adalah pendapat Ibnu Abbas, Ibnu Mas’ud, dll, walau keberadaannya di syurga bisa jadi setelah sebelumnya diadzab dulu di neraka, demikian kesimpulan dari At-Tahabari pada akhirnya.

Maka dalam kaitannya dengan ibadah Ramadhan, jika kita analogikan dengan ayat diatas, setidaknya manusia juga terbagi kedalam tiga kelompok:

1. Kelompok Zholim

Mereka ini adalah orang-orang yang sangat kurang sekali perhatiannya terhadap ramadhan, bagi mereka kedatangan bulan ramadhan tidak ada yang terlalu spesial, biasa-biasa saja, atau bahkan bagi mereka kedatangan bulan ramadhan itu malah mebawa beban baru, selain susahnya berpuasa juga beban kebutuhan ekonomi yang biasanya membengkak, utamanya beban idul fitri untuk seabrek kue-kue dan baju baru dengan model terbaru yang sangat menggoda kantong duit.

Sehingga tidak jarang karena biasa-biasa saja akhirnya mereka juga menyamakan bulan ramadhan ini dengan bulan-bulan yang lainnya, makan dan minum disiang hari tetap berlanjut, di rumah istri-istri mereka tetap menanak nasi dan lauk dengan jadwal harian bisanya, walau terkadang ada juga yang makan dan minumnya di warteg yang ditutupi hordeng, mungkin karena masih punya rasa malu untuk makan di rumah karena dilihat anak-anak, mereka berbuka karena memang mereka malas untuk berpuasa, bukan karena alasan lainnya.

Atau mereka juga berpuasa, tapi hanya sebagian saja, lalu sebagian yang lainnya mereka tinggalkan juga bukan karena alasan yang diperbolehkan, sehingga kewajiban berpuasa tidak dijalankan dengan sempurna. Bisa jadi mereka bahkan berpuasa ful selama satu bulan, namun dihari-hari mereka berpuasa itu mereka meninggalkan shalat, karena terlalu banyak tidur, sehingga dengan alasan badan lemes karena berpuasa akhirnya shalat pun mereka tinggalkan.

Ini adalah kezholiman untuk diri masing-masing, tidak ada ruginya bagi Allah swt jika ada hambaNya yang tidak berpuasa atau meninggalkan shalat, justru kerugian itu akan dirasakan oleh mereka yang zholim terhadap dirinya sendiri, di dunia hidupnya tidak akan tenang, dan diakhirat nasibnya akan menyedihkan, walaupun kita semua tetap berharap ampunan dan kasih sayang Allah swt agar Allah swt tetap memasukkan mereka ke syurga-Nya.

Orang-orang seperti ini harus diingatkan dan diajak dengan baik agar menyadari bahwa yang demikian bukanlah hal yang harus dibanggakan sehingga tidak ada niat sama sekali untuk dirubah. Pendidikan agama sejak dini menjadi solusi terbaik untuk mengobati periaku zholim terhadap diri sendiri ini, jika dari kecil anak-anak muslim sudah dibiasakan untuk melaksanakan perintah agama, dan dididik dengan karakter agama yang sangat paripurna, maka insya Allah kelak ketika dewasa mereka akan menjadi orang yang baik.

2. Kelompok Muqtashid (Pertengahan/sedang)

Mereka adalah orang-orang yang bergembira menyambut hadirnya bulan ramadhan, rasa gembira itu semakin menajadi-jadi karena setelah itu bakal ada libur panjang dan bisa mudik ke kampung halaman bertemu kelurga dan sanak kerabat, selain dari kegembiraan karena kesadaran bergama bahwa di bulan ramadhan ini waktunya untuk menghapus dosa dan mengambil banyak pahala untuk bekal diakhirat kelak, terlebih didalam bulan ramadhan ada satu malam yang nilai kebaikannya melebihi seribu bulan.

Namun padatnya aktivitas bekerja di bulan ramadhan ini terkadang membuat sebagian mereka lalai untuk memperbanyak ibadah lewat perkara-perkara sunnah, terkadang beberapakali baik disengaja atau tidak meninggalkan ibadah shalat tarawih dan witir, atau hanya melaksanakan shalat-shalat fardu saja selama berpuasa tanpa diikuti dengan shalat rawatib; qabliyah dan ba’diyah, mungkin juga dalam satu hari itu ada rasa malas untuk membaca Al-Quran, sehingga target bacaan Al-Quran kadang tidak tercapai.

Mereka full berpuasa, namun ada diantara mereka yang aktivitas puasnaya full tidur, waktu tidurnya mengikuti waktu shalat lima waktu, tidur setelah subuh, setealah zuhur, setelah ashar, serta setelah maghrib dan isyak. Dan mungkin juga ada yang tidak sempat atau malas untuk beri’tikaf di masjid pada sepuluh hari terakhir, padahal selain memang aslinya ini adalah sebuah kesunnahan di bulan ramadhan, aktivitas i’tikaf juga bisa menjadi sarana untuk menggandakan ibadah dan mendapat nilai ibadah yang maksmimal pada malam-malam lailatul qadar.

Inilah model berpuasanya kelompok muqtashid (sedang) yang mungkin sebagaian besar diantara kita masuk dalam katagori ini, insya Allah, mampu untuk berpuasa full dan berusaha sekuat tenaga untuk tidak melalukan perkara yang haram, namun terkadang lalai untuk beberapa perkara sunnah padahal sama-sama dijanjikan pahala yang berlipat ganda, terlebih di dalam bulan ramadhan.

Sambil berharap bahwa kelompok ini juga mereka yang disebut oleh Rasulullah saw: ”Siapa yang puasa Ramadhan dengan iman dan ihtisab, telah diampuni dosanya yang telah lalu. Dan siapa yang bangun malam Qadar dengan iman dan ihtisab, telah diampuni dosanya yang telah lalu”. (HR. Bukhari Muslim)

3. Kelompok Sabiqun bil Khairat (Berprestasi)

Sengaja menyebutnya dengan istilah orang-orang yang berprestasi, karena memang mereka adalah orang-orang yang berusaha meninggalkan perkara yang haram dan makruh, dan mereka juga terkadang meninggalkan sebagian perkara mubah demi kesempurnaan ibadah puasa yang mereka jalankan. Mereka ini sebenarnya bukan hanya berprestasi di bulan ramadhan saja namun diluar bulan ramadhan mereka juga orang-orang yang berprestasi.

Hasil didikan ramadhannya sangat berbekas dan terlihat pada sebelas bulan lainnya. Mereka ini adalah golongan yang sangat memburu pahala, bahkan mereka berharap bahwa seluruh bulan yang ada ini adalah bulan ramadhan, kerinduan mereka kepada ramadhan membuat mereka selalu berdoa sepanjang bulan kepada Allah swt agar mereka dipertemukan dengan bulan ramadhan, dan mereka adalah orang-orang yang menangis ketika berpisah dengan ramadhan, menangis bukan karena pada saat berlebaran orang tua mereka sudah tidak ada, namun mengangis sedih karena bulan yang mulia yang Allah swt janjikan jutaan pahala kebaikan berlalu sedang mereka merasa belum banyak meraih kebaikan didalamnya.

Mereka adalah orang yang oleh Al-Quran disifati dengan:

كَانُوا قَلِيلًا مِنَ اللَّيْلِ مَا يَهْجَعُونَ، وَبِالْأَسْحَارِ هُمْ يَسْتَغْفِرُونَ

“Di dunia mereka sedikit sekali tidur diwaktu malamو dan selalu memohonkan ampunan diwaktu pagi sebelum fajar” (QS. Adz-Dzariyat: 17-18)

Kebersamaan mereka dengan Al-Quran sangat luar biasa sekali di bulan ini. Salafus saleh kita terdahulu ada yang menghatamkan Al-Quran per dua hari, ada yang menyelesaikanya per tiga hari, ada yang mengkhatamkannya dengan dijadikan bacaan pada shalat malam, bahkan dalam sebagian riwayat ada yang mengkhatamkan Al-Quran bahkan hingga 60 kali selama ramadhan.

Kualitas ibadah shalat malam mereka juga jangan ditanya, bahkan ada sebagian salafus saleh kita yang shalat subuhnya masih memakai wudu shalat isyaknya, bukan seperti kita di sini yang sengaja mencari-cari masjid yang shalatnya “cepet”, sehingga sekali waktu ada masjid yang shalatnya lama, maka malam besoknya akan pindah ke masjid yang lainnya.

Kebaikan sosial mereka juga sangat kuat, Rasulullah saw adalah tauladan dalam hal ini, yang aslinya memang dermawan, namun kedermawanan beliau lebih lagi di bulan ramadhan, maka ada diantara sabahat beliau yang bahkan tidak pernah berbuka puasa kecuali bersama orang-orang miskin, ada yang setiap harinya memberikan buka puasa untuk 500 orang, dan disaat yang sama mereka sangat sedikit sekali makan sahur dan berbukanya, ada yang hanya berbukan dengan dua suap makanan, padahal aslinya mereka ada makanan yang lebih, namun itu tidak untuk dimakan sendiri saja.

Seluruh anggota badan mereka juga berpuasa, mata berpuasa dari melihat hal-hal yang dilarang oleh Allah swt, pun begitu dengan telinga, lidah, bibir, tangan,kaki dan seluruh anggota tubuh lainnya dari maksiat kepada Allah swt. Mereka inilah yang oleh Rasulullah saw disifati:

”Siapa yang puasa Ramadhan dengan iman dan ihtisab, telah diampuni dosanya yang telah lalu. Dan siapa yang bangun malam Qadar dengan iman dan ihtisab, telah diampuni dosanya yang telah lalu”. (HR. Bukhari Muslim).

Bersihnya dosa mereka bahkan seperti bayi baru baru terlahir dari rahim ibunya. Akhirnya semoga Allah swt mempertemukan dengan bulan ramadhan kali ini, dan semoga Allah swt mengampui segala dosa-dosa kita yang telah lalu.

Aamiin..

BACAAN YANG BISA HINDARKAN ANAK DARI ZINA SEUMUR HIDUPNYA

Assalamu'alaikum Wr Wb...
Sahabat...
Menjadi orang tua bagi anak-anak sangat gampang. Ia boleh menunggu saja anak-anak keluar dari rahim istrinya atau memungut anak dari pangkuan panti asuhan dan rumah bersalin. Sedangkan menjadi orang tua yang berperan, susah-susah gampang. Dibilang gampang, kadang terkendala di tengah jalan. Dibilang susah, tetapi berjalan begitu saja.

Yang paling gampang, melantunkan lafal adzan di kuping kanan dan iqamah di telinga kiri bayi yang menjadi tugas orang tua pertama kali setelah anak lahir. Selain karena demikian perlakuan Rasulullah SAW terhadap Hasan dan Husein, tetapi juga lafal dua kalimat syahadat yang masuk ke lubang telinga bayi cukup melindunginya dari setan ibu-ibu yang suka ‘mengasuh’ bayi-bayi manusia. Ini jelas disabdakan Rasulullah SAW.

Setelah itu, para orang tua juga selayaknya mengantisipasi masa depan bayi sejak dini. Mereka dianjurkan membaca surah Al-Qadar di telinga kanan si bayi. Amalan ini berkhasiat menjauhkan si anak dari dosa besar zina sepanjang usianya kelak. Anggaplah sebagai pembuktian kasih sayang orang tua demi kepentingan masa depan bayi. Syekh Muhammad bin Ibrahim Al-Baijuri dalam Hasyiyatus Syekh bin Ibrahim Al-Baijuri ala Syarhil Allamah ibni Qasim Al-Ghazzi menerangkan.

و نقل عن الشيخ الديربي أنه يسن أن يقرأ فى أذن المولود اليمنى سورة إنا أنزلناه لأن من فعل به ذلك لم يقدر الله عليه زنا طول عمره. قال هكذا أخذناه عن مشايخنا

“Dikutip dari Syekh Dairobi bahwa dianjurkan membaca surah Al-Qadar di lubang telinga kanan bayi. Karena, bayi mana saja yang diperlakukan demikian niscaya dilindungi Allah dari dosa zina seusia hidupnya. Kata Syekh Dairobi, ‘Demikianlah amalan yang kami terima dari para guru kami’.”

Adapun susahnya memainkan peran orang tua yang baik seperti dikeluhkan banyak orang tua, saking banyaknya tidak perlu dikatakan di sini. Salah satunya boleh disebut; yakni menanamkan nilai-nilai agama kepada si anak agar tidak terjerumus dalam segala bentuk dosa kecil atau besar, termasuk zina. Tetapi secara umum, orang tua perlu kesabaran lebih untuk terus mendampingi dan mendidik anak. Wallahu A’lam.