PEMIMPIN sejati adalah pemimpin yang merasakan besarnya tanggung jawab kepemimpinan yang diembannya. Pemimpin sejati adalah pemimpin yang menghormati amanah kepemimpinan sebagai tugas suci. Pemimpin sejati adalah pemimpin yang rela berkorban dan berjuang demi kesejahteraan rakyatnya. Pemimpin sejati adalah pemimpin yang selalu mengedepankan kepentingan rakyat di atas ambisi pribadinya.
Dan tipe-tipe pemimpin sejati di atas ada dan melekat dalam diri Khalifah Umar bin Abdul Aziz.
Rakyat menjadi prioritas dalam kesejahteraan. Adil menjadi prioritas dalam melaksanakan hukum. Taqwa menjadi prioritas yang mendasari setiap kebijakan-kebijakan yang diambil. Sehingga ia mendapat cinta Allah dan diterima dengan baik oleh rakyat.
Allah Swt Maha Tahu dan Bijaksana. Sesuatu yang keluar dari hati, Allah sampaikan pula ke-dalam hati orang yang menerimanya. Ketulusan Umar bin Abdul Aziz dalam mengabdi untuk masyarakat, tanpa mengharap sedikitpun pamrih, balas jasa maupun sanjungan, ternyata dirasakan betul dampaknya oleh masyarakat. Sehingga mereka membalasnya dalam bentuk keta’atan kepadanya.
Mari kita simak penuturan Fathimah binti Abdul Malik mengenai ketulusan suaminya dalam memimpin ummat. Sebagai orang paling dekat dengan Umar bin Abdul Aziz, tentu ia betul-betul melihat hal itu dengan jelas. Fathimah baru menyampaikan itu ketika para ulama’ datang berta’ziyah ke rumah selepas meninggalnya Umar bin Abdul Aziz.
“Kedatangan kami kesini untuk mengucapkan belasungkawa padamu atas kematian Umar. Sungguh, kesedihan ini merata dirasakan seluruh ummat. Ceritakan kepada kami –semoga Allah merahmatimu- tentang keseharian Umar. Bagaimana kesehariannya di rumah? Karena yang paling mengetahui tentang seseorang adalah keluarganya.” papar para ulama’ kepada Fathimah.
“Demi Allah, sungguh Umar bukanlah orang yang shalat dan puasanya lebih banyak daripada kalian. Tapi demi Allah, aku tak pernah melihat orang yang sangat takut pada Allah melebihi Umar. Demi Allah, tempat yang menjadi akhir kesenangan seseorang adalah keluarganya. Saat itu aku dan dia hanya terpisah selimut. Tiba-tiba terdetik dalam hatinya sesuatu dari perintah Allah. Seketika ia bangkit layaknya bangkitnya seekor burung jika jatuh kedalam air. Iapun terlihat sedih. Kemudian menangis dengan keras. Sampai-sampai aku katakan, “Demi Allah, seperti mau keluar nyawanya dari jasad”. Lalu ia menyingkap selimut yang menaungi kami. Karena sayang padanya aku berkata, “Andaikata jarak kita dengan kepemimpinan ini sejauh jarah timur dan barat. Demi Allah, aku tak pernah melihat kesenangan sejak kami masuk kedalam (amanah kepemimpinan ummat ini).”
Bahkan dalam sebuah riwayat, Fathimah binti Abdul Malik mengatakan, bahwa yang menyebabkan Umar bin Abdul Aziz jatuh sakit selama dua puluh hari dan kemudian meninggal, karena ia sangat takut kepada Allah atas amanah memimpin ummat yang dibebankan kepadanya.
Disinilah bedanya seorang pemimpin yang berjalan tulus untuk rakyatnya dengan pemimpin yang hanya mementingkan urusan dirinya, keluarganya serta sanak keluarganya. Pengaruhnya akan dirasakan oleh rakyat. Karena itulah kita bisa melihat dari analisa sejarah kepemimpinan Umar bin Abdul Aziz, bahwa bukan hanya keadilan dan kesejahteraan semata yang merata, tapi juga keta’atan yang membumi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar