Kamis, 19 Mei 2016

ADAB - ADAB BERGURAU

DIRIWAYATKAN dari Abu Umamah radhiyallahu ‘anhu ia berkata, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

أَنَا زَعِيمٌ بِبَيْتٍ فِي رَبَضِ الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْمِرَاءَ وَإِنْ كَانَ مُحِقًّا وَبِبَيْتٍ فِي وَسَطِ الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْكَذِبَ وَإِنْ كَانَ مَازِحًا وَبِبَيْتٍ فِي أَعْلَى الْجَنَّةِ لِمَنْ حَسَّنَ خُلُقَهُ

“Aku akan menjamin rumah di tepi surga bagi seseorang yang meninggalkan perdebatan meskipun benar. Aku juga menjamin rumah di tengah surga bagi seseorang yang meninggalkan kedustaan meskipun bershifat gurau, Dan aku juga menjamin rumah di syurga yang paling tinggi bagi seseorang yang berakhlak baik.” (HR. Abu Daud no 4167)

Pelajaran dari hadits

Pelajaran Pertama : Dibolehkan bergurau selama itu memenuhi beberapa syarat, diantaranya:

Syarat Pertama: Tidak mengandung kebohongan baik dalam perkataan maupun perbuatan sebagaimana di dalam hadits Hakim bin Hizam radhiyallahu ‘anhu ia berkata, Rasulullah shallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

وَيْلٌ لِلَّذِي يُحَدِّثُ فَيَكْذِبُ لِيُضْحِكَ بِهِ الْقَوْمَ وَيْلٌ لَهُ وَيْلٌ لَهُ

“Celakalah bagi orang yang berbicara lalu berdusta untuk membuat orang lain tertawa. Celakalah ia, celakalah ia.” (HR. Abu Daud, Baihaqi, Ahmad. Berkata Syu’iab al-Arnauth: Sanadnya Hasan)

Syarat Kedua: Tidak mengandung sesuatu yang keji atau sesuatu yang kasar dan tidak senonoh, baik dalam perkataan maupun perbuatan.

Syarat Ketiga: Hendaknya dilakukan sekedarnya dan seperlunya, serta tidak terus menerus. Berkata al-Mula Ali al-Qari di dalm Mirqah al-Mafatih Syarah Misykat al-Mashabih (14/153):

قال النووي اعلم أن المزاح المنهي عنه هو الذي فيه إفراط ويداوم عليه فإنه يورث الضحك وقسوة القلب ويشغل عن ذكر الله والفكر في مهمات الدين ويؤول في كثير من الأوقات إلى الإيذاء ويورث الأحقاد ويسقط المهابة والوقار فأما ما سلم من هذه الأمور فهو المباح الذي كان رسول الله يفعل على الندرة لمصلحة تطييب نفس المخاطب ومؤانسته وهو سنة مستحبة

Berkata an-Nawawi: Ketahuilah bahwa bergurau yang dilarang adalah yang keterluan dan terus-menerus, karena hal itu akan menyebabkan tertawa dan mengeraskan hati, serta memalingkan dari mengingat Allah dan dari memikirkan masalah-masalah agama. Bahkan seringnya menyakitkan orang lain dan menimbulkan dendam, begitu juga bisa menjatuhkan kewibawaan dan kehormatan seseorang. Adapun jika hal-hal di atas tidak ada, maka bergurau adalah sesuatu yang dibolehkan, seperti yang kadang dilakukan oleh Rasulullah, demi kemaslahatan dan meyenangkan orang yang diajak bicara serta menambah keakraban. Dan ini semua merupakan sunnah yang dianjurkan.

Syarat Keempat: Hendaknya tidak memalingkan dari kewajiban dan mengingat Allah

Syarat Kelima : Hendaknya tidak mengandung sesuatu yang menyakiti atau menakuti orang lain. Sebagaimana sabda Rasulullah shallahu ‘alaihi wasallam :

لَا يَحِلُّ لِمُسْلِمٍ أَنْ يُرَوِّعَ مُسْلِمًا

“Tidak halal bagi seorang muslim membuat kaget sesama saudaranya yang muslim.” (HR. Abu Daud dan Ahmad. Hadits Shahih)

Syarat Keenam: Hendaknya tidak bercanda dalam hal-hal yang dilarang oleh agama. Diantaranya adalah bercanda dalam agama yang melecehkan Allah, Ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya, sebagaimana yang tersebut di dalam firman Allah :

Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentulah mereka akan manjawab, “Sesungguhnya kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja.” Katakanlah: “Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?” Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu kafir sesudah beriman. Jika Kami memaafkan segolongan kamu (lantaran mereka taubat), niscaya Kami akan mengazab golongan (yang lain) disebabkan mereka adalah orang-orang yang selalu berbuat dosa.” (QS. At Taubah : 65-66)

Syarat Ketujuh : Hendaknya tidak bergurau di tempat dan waktu yang mestinya seseorang harus serius.

Pelajaran Kedua : Manfaat Bergurau.

Bergurau mempunyai banyak manfaat, diantaranya adalah:

Supaya menambah keakraban di antara sesama.
Menghilangkan rasa jenuh dan bosan.
Sarana untuk bisa menghibur dan menarik seseorang untuk bisa diarahkan pada sesuatu yang baik.
Melatih otak agar terus berfikir dan berkembang sebagaimana mestinya.
Memberikan kegembiraan kepada orang lain.
Pelajaran Ketiga : pada dasarnya berdusta dan berbohong adalah perbuatan dosa yang diharamkan di dalam Islam, sebagiamana firman Allah:

Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta “ini halal dan ini haram”, untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah. Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tiadalah beruntung.” (QS. An Nahl: 116)

Ini dikuatkan dengan hadits Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu ia berkata, bahwa Rasulullah shallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إِيَّاكُمْ وَالْكَذِبَ فَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِي إِلَى الْفُجُورِ وَإِنَّ الْفُجُورَ يَهْدِي إِلَى النَّارِ وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَكْذِبُ وَيَتَحَرَّى الْكَذِبَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ كَذَّابًا

“Jauhilah kebohongan, sebab kebohongan menggiring kepada keburukkan, dan keburukkan akan menggiring kepada neraka. Dan sungguh, jika seseorang berbohong dan terbiasa dalam kebohongan hingga di sisi Allah ia akan ditulis sebagai seorang pembohong.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Tetapi dalam beberapa hal, berdusta dibolehkan, diantaranya sebagaimana yang disebutkan di dalam hadits Ummu Kultsum bin Uqbah radhiyallahu ‘anha bahwasanya ia mendengar Rasulullah shallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

لَيْسَ الْكَذَّابُ الَّذِي يُصْلِحُ بَيْنَ النَّاسِ وَيَقُولُ خَيْرًا وَيَنْمِي خَيْرًا

“Orang yang mendamaikan pihak-pihak yang bertikai, orang yang berkata demi kebaikan, dan orang yang membangkitkan (mengingatkan) kebaikan bukanlah termasuk pendusta.” (HR. Bukhari 2692 dan Muslim 2605)

Dalam riwayat lain disebutkan bahwa Ummu Kultsum bin Uqbah radhiyallahu ‘anha berkata:

لَمْ أَسْمَعْهُ يُرَخِّصُ فِي شَيْءٍ مِمَّا يَقُولُ النَّاسُ إِلَّا فِي ثَلَاثٍ: فِي الْحَرْبِ وَالْإِصْلَاحِ بَيْنَ النَّاسِ، وَحَدِيثِ الرَّجُلِ امْرَأَتَهُ، وَحَدِيثِ الْمَرْأَةِ زَوْجَهَا

Bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah memberikan keringanan pada apa yang diucapkan oleh manusia bahwa itu berdusta kecuali dalam tiga perkara, yaitu, dalam perang, atau mendamaikan perselisihan di antara manusia, dan ucapan suami kepada istrinya, atau cuapan isri kepada suaminya.” (HR. Ahmad).

HINDARI NUSYUZ SEBELUM MENYESAL

DALAM menjalin rumah tangga antara suami istri tentu tidak selamanya akan berjalan dengan baik. Pasti pertemuan antara hal yang tidak menyenangkan di antara keduanya akan terjadi. Salah satu yang berbahaya di kalangan suami istri ialah nusyuz. Apa itu nusyuz?

Nusyuz ialah meninggalkan kewajiban bersuami-istri. Misalnya nusyuz dari pihak suami ialah bersikap kasar dan keras terhadap istri, tidak mau menggaulinya, dan tidak memberikan hak-haknya. Nusyuz dari pihak istri misalnya meninggalkan rumah tanpa seizing suami.

Allah SWT berfirman, “…Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya, nasihatilah mereka dan pisahkanlah diri dari tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka menaatimu, janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya…” (QS. An-Nisa’: 34).

Tindakan di atas sekedar memberi pelajaran. Jika terpaksa memukul, hendaklah pukul dengan ringan yang tidak meninggalkan bekas. Bila cara pertama (nasihat) telah ada manfaatnya, jangan menggunkan cara lain yang dapat menyusahkan istri.

Allah berfirman, “Dan jika seorang wanita khawatir akan nusyuz atau sikap tidak acuh dari suaminya, tidak mengapa bagi keduanya mengadakan perdamaian yang sebenarnya,” (QS. An-Nisa: 128).

Suami yang mulanya baik dan sehat, tiba-tiba terserang gangguan jiwa sehingga sering marah-marah, memukul istri dan berbuat hal-hal yang aneh, yang membuat kehidupan rumah tangga seperti di neraka. Bolehkah istri meninggalkan suaminya dan meminta cerai?

Hal itu boleh untuk dilakukan. Istri dapat mengajukan pencerainnya kepada pengadilan agama. Tetapi sungguh tega si istri yang meninggalkan suaminya yang sedang sakit ingatan dan perlu perawatan.

Nah, ternyata nusyuz ini dapat berkahir dengan tidak menyenangkan. Maka dari itu, hindarilah nusyuz sebelum Anda menyesal. Jalankan kewajiban Anda sebagaimana mestinya. Penuhi hak suami atau istri.

[Sumber: Anda Bertanya Islam Menjawab/Karya: Prof. Dr. M. Mutawalli asy-Sya’rawi/Penerbit: Gema Insani]

Minggu, 08 Mei 2016

KISAH IMAM SYAFI'I DAN PUTRI IMAM AHMAD BIN HAMBAL

زار الإمام الشافعي رحمه الله تعالى الإمام أحمد بن حنبل ذات يوم في داره ، وكانت للإمام أحمد ابنة صالحة تقوم الليل وتصوم النهار وتحب أخبار الصالحين والأخيار ، وتود أن ترى الشافعي لتعظيم أبيها له ، فلما زارهم الشافعي فرحت البنت بذلك ، طمعاً أن ترى أفعاله وتسمع مقاله .

Suatu hari Imam Syafi'i Rahimahullah berkunjung kerumah Imam Ahmad bin Hambal.
Imam Ahmad mempunyai seorang putri yg sholihah, kalo malam beribadah, siang berpuasa dan menyukai kisah orang2 sholih dan pilihan.
Putri beliau ini ingin sekali melihat lmam Syafi'i secara langsung sebab sang ayah sangat menghormatinya.
Ketika Imam Syafi'i berkunjung kerumah mereka, sang putri merasa sangat senang dan berharap bisa melihat apa saja yang di kerjakan imam Syafi'i serta mendengar ucapan2nya.

وبعدما تناول طعام العشاء قام الإمام أحمد إلى صلاته وذكره ، والإمام الشافعي مستلقٍ على ظهره ، والبنت ترقبه إلى الفجر ، وفي الصباح قالت بنت الإمام أحمد لأبيها :
يا أبتاه ... أهذا هو الشافعي الذي كنت تحدثني عنه ؟
قال : نعم يا ابنتي .

Setelah selesai makan malam bersama, Imam Ahmad menuju tempat sholat untuk melakukan sholat dan dzikir, Imam Syafi'i tiduran terlentang, sedangkan sang putri selalu mengawasi Imam Syafi'i sampai fajar.
Di pagi hari, sang putri berkata kepada ayahnya :
" wahai ayahku...Apakah benar dia ini Imam Syafi'i yg engkau ceritakan padaku dulu ? "
Imam Ahmad : " benar anakku .."

فقالت : سمعتك تعظم الشافعي وما رأيت له هذه الليلة .. لا صلاة ولا ذكراٍ ولا ورداً؟
وقد لا حظت عليه ثلاثة أمور عجيبة ، قال : وما هي يا بنية ؟
قالت : أنه عندما قدمنا له الطعام أكل كثيراً على خلاف ما سمعته عنه ، وعندما دخل الغرفة لم يقم ليصلي قيام الليل ، وعندما صلى بنا الفجر صلى من غير أن يتوضأ .

Putri : " aku mendengar bahwa engkau menghormati Imam Syafi'i, tapi apa yg aku lihat tadi malam dia...tdk sholat, tidak dzikir tidak pula wirid ?
dan aku juga melihat ada 3 hal yg aneh "

Imam Ahmad : " apa saja 3 hal itu, wahai annaku ? "
Putri : " ketika kita sajikan makanan kepada Imam Syafi'i, dia makan banyak sekali dan ini berbeda dengan yg ku dengar,
ketika masuk kamar, dia tidak beribadah sholat malam, dan ketika sholat subuh bersama kita, dia sholat tanpa wudlu ."

فلما طلع النهار وجلسا للحديث ذكر الإمام أحمد لضيفه الإمام الشافعي ما لاحظته ابنته ، فقال الإمام الشافعي رحمه الله :
يا أبا محمد لقد أكلت كثيراً لأنني أعلم أن طعامك من حلال ، وأنك كريم وطعام الكريم دواء ، وطعام البخيل داء ، وما أكلت لأشبع وإنما لأتداوى بطعامك ، وأما أنني لم أقم الليل فلأنني عندما وضعت رأسي لأنام نظرت كأن أمامي الكتاب والسنة ففتح الله عليّ باثنتين وسبعين مسألة من علوم الفقه رتبتها في منافع المسلمين ، فحال التفكير بها بيني وبين قيام الليل ،

Ketika agak siang dan mereka berbincang2, Imam Ahmad berkata kepada Imam Syafi'i tentang apa yang dilihat oleh putrinya, lalu Imam Syafi'i Rahimahullah berkata :
" wahai aba Muhammad , aku memang semalam banyak makan karena aku tahu bahwa makananmu adalah halal dan engkau adalah orang mulia sedangkan makan orang mulia adalah obat, kalau makanan orang bakhil adalah penyakit, jadi, aku makan bukan untuk kenyang tapi untuk berobat dengan makananmu.
adapun semalam aku tidak sholat malam, hal itu dikarenakan ketika aku melatakkan kepalaku utk tidur, aku melihat seolah olah al qur'an dan hadits berada di depanku, kemudian Allah membukakan kepadaku 72 masalah ilmu fiqih yg kususun untuk kemaslahatan muslimin, maka memikirkan ilmu inilah yang menghalangi antara diriku dan sholat malam.

وأما أنني صليت بكم الفجر بغير وضوء ، فوالله ما نامت عيني حتى أجدد الوضوء . لقد بقيت طوال الليل يقظاناً ، فصليت بكم الفجر بوضوء العشاء . ثم ودّعه ومضى .
فقال الإمام أحمد لابنته : هذا الذي عمله الشافعي الليلة وهو نائم ( أي مستلقٍ ) أفضل مما عملته وأنا قائم .

Adapun ketika sholat subuh bersama kalian aku tidak wudhlu, maka demi Allah tidaklah kedua mataku tertidur hingga aku butuh memperbaharui wudhlu.
semalam suntuk aku terjaga, jadi aku sholat subuh bersama kalian dengan wudhu sholat Isya' ."

Kemudian Imam Syafi'i berpamitan dan pulang.
Imam Ahamd berkata kepada putrinya :
" yang di kerjakan oleh oleh Imam Syafi'i semalam dalam keadaan tiduran, lebih utama daripada apa yang kukerjakan sambil sholat malam ."

Sumber : Kitab Zaadul Murobbiyyin

------------------------------------------------------------

Imam Nawawi dalam kitab Al Majmu' menukil Dawuhnya Imam Syafi'i :

قَالَ الشَّافِعِيُّ رَحِمَهُ اللَّهُ : طَلَبُ الْعِلْمِ أَفْضَلُ مِنْ صَلَاةِ النَّافِلَةِ ، وَقَالَ : لَيْسَ بَعْدَ الْفَرَائِضِ أَفْضَلُ مِنْ طَلَبِ الْعِلْمِ

Imam Syafi'i - semoga Allah merahmatinya- berkata :
" Mencari ilmu lebih utama daripada sholat sunnah, Setelah ibadah2 fardhu tidak ada yg lebih utama daripada mencari Ilmu ."

wallohu a'lam.

Selasa, 03 Mei 2016

PURNAMA DI PADANG PASIR

Renungan
Mari kita buka lembaran sejarah.
Ribuan tahun sebelum Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam dilahirkan….

Di tanah Makkah yang sunyi dan kering…. Tiada tumbuhan dan air. Tiada pula manusia yang mendiami.

Di sebuah tempat, yang di sana akan didirikan Ka’bah, Baitullah yang pertama di muka bumi….

Kekasih yang sangat disayang oleh Allah subhanahu wa ta’ala, hamba-Nya yang terpilih, Ibrahim ‘alaihissalam, dengan berbekal wahyu, membawa istrinya, Hajar, ibunda Isma’il, nenek moyang bangsa Arab, meninggalkan Palestina.

Jarak antara Palestina dan Makkah saat itu ditempuh selama satu bulan perjalanan.

Setelah tiba di dekat Baitullah al-Haram, Ibrahim menurunkan bekal dan meninggalkan anak dan istrinya di sana.

Kemudian, Ibrahim berjalan meninggalkan mereka.

Hajar terkejut dan mengejar. Bergegas dia mengiringi langkah Ibrahim sambil bertanya,

“Hendak ke mana, hai Ibrahim? Apakah engkau akan meninggalkan kami di sini?”

Berulang pertanyaan itu keluar dari mulut Hajar, tetapi Ibrahim diam tanpa menjawab sepatah kata pun.

Hajar bertanya lagi, “Apakah Allah yang memerintahmu berbuat begini?”

“Ya,” barulah Ibrahim menjawab dengan tegas.

“Kalau begitu, Dia tidak akan menyia-nyiakan kami.”
Allahu akbar

Seorang wanita dengan bayi mungilnya yang masih mengharapkan belaian sang ayah dan masih bergantung pada air susu sang ibu, tinggal di bumi yang tiada berpenghuni seorang diri?

Kejamkah Ibrahim?

Tentu tidak.

Bagaimana dengan Hajar?

Wanita yang dahulu menjadi pelayan istana Fir’aun, dihadiahkan kepada Sarah, istri Ibrahim, lalu dihadiahkan Sarah kepada Ibrahim dan menjadi istrinya….

Kini, dia harus menjalani kehidupan yang mungkin tidak pernah terlintas dalam angan-angannya.
Subhanallah.

Sambil berjalan, Hajar bertanya, “Kepada siapa engkau meninggalkan kami di sini?”

“Kepada Allah,” jawab Ibrahim.

“Kalau begitu, aku ridha kepada Allah.”

Allah subhanahu wa ta’ala membalas keridhaannya dengan memuliakannya, bahkan menjadikan putranya sebagai nabi dan rasul. Tidak sampai di situ, kemuliaan itu terus bertambah dengan menjadikan salah satu dari keturunan putranya ini menjadi pemuka para nabi dan rasul, bahkan pemimpin anak-anak Adam.

Dialah Muhammad shallallahu ‘alaihi wassalam

Kalimat ini sangat mudah diucapkan, tetapi sulit diterapkan, kecuali oleh mereka yang diberi kemudahan/taufik oleh Allah subhanahu wa ta’ala.
Kata pepatah Arab,

اَلْبَلَايَا تُظْهِرُ جَوَاهِرَ الرِّجَالِ

“Ujian dan cobaan akan menampakkan kondisi asli seseorang.”

Betapa sering kita mengira bahwa kita ridha kepada Allah sebagai Rabb. Akan tetapi, setelah mengalami berbagai ujian, tampaklah betapa lemahnya kita dalam masalah ini. Kita lebih mengedepankan ridha makhluk yang semisal dengan kita daripada keridhaan Allah.

Terakhir, perlu kita ingat bahwa keridhaan yang tumbuh di hati seorang hamba tidak lain adalah buah dari keridhaan Allah subhanahu wa ta’ala kepadanya. Sebab, segala sesuatu di alam ini adalah makhluk dan berada dalam kepemilikan Allah.

Ketika meridhai seseorang, Allah meletakkan dalam hati orang tersebut keridhaan kepada apa saja yang Dia cintai, lalu dia pun meridhai dan menekuninya. Selanjutnya, Allah pun meridhainya.

Wallahu a’lam.

disyarikan dari QONITAH...