Selasa, 03 Mei 2016

PURNAMA DI PADANG PASIR

Renungan
Mari kita buka lembaran sejarah.
Ribuan tahun sebelum Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam dilahirkan….

Di tanah Makkah yang sunyi dan kering…. Tiada tumbuhan dan air. Tiada pula manusia yang mendiami.

Di sebuah tempat, yang di sana akan didirikan Ka’bah, Baitullah yang pertama di muka bumi….

Kekasih yang sangat disayang oleh Allah subhanahu wa ta’ala, hamba-Nya yang terpilih, Ibrahim ‘alaihissalam, dengan berbekal wahyu, membawa istrinya, Hajar, ibunda Isma’il, nenek moyang bangsa Arab, meninggalkan Palestina.

Jarak antara Palestina dan Makkah saat itu ditempuh selama satu bulan perjalanan.

Setelah tiba di dekat Baitullah al-Haram, Ibrahim menurunkan bekal dan meninggalkan anak dan istrinya di sana.

Kemudian, Ibrahim berjalan meninggalkan mereka.

Hajar terkejut dan mengejar. Bergegas dia mengiringi langkah Ibrahim sambil bertanya,

“Hendak ke mana, hai Ibrahim? Apakah engkau akan meninggalkan kami di sini?”

Berulang pertanyaan itu keluar dari mulut Hajar, tetapi Ibrahim diam tanpa menjawab sepatah kata pun.

Hajar bertanya lagi, “Apakah Allah yang memerintahmu berbuat begini?”

“Ya,” barulah Ibrahim menjawab dengan tegas.

“Kalau begitu, Dia tidak akan menyia-nyiakan kami.”
Allahu akbar

Seorang wanita dengan bayi mungilnya yang masih mengharapkan belaian sang ayah dan masih bergantung pada air susu sang ibu, tinggal di bumi yang tiada berpenghuni seorang diri?

Kejamkah Ibrahim?

Tentu tidak.

Bagaimana dengan Hajar?

Wanita yang dahulu menjadi pelayan istana Fir’aun, dihadiahkan kepada Sarah, istri Ibrahim, lalu dihadiahkan Sarah kepada Ibrahim dan menjadi istrinya….

Kini, dia harus menjalani kehidupan yang mungkin tidak pernah terlintas dalam angan-angannya.
Subhanallah.

Sambil berjalan, Hajar bertanya, “Kepada siapa engkau meninggalkan kami di sini?”

“Kepada Allah,” jawab Ibrahim.

“Kalau begitu, aku ridha kepada Allah.”

Allah subhanahu wa ta’ala membalas keridhaannya dengan memuliakannya, bahkan menjadikan putranya sebagai nabi dan rasul. Tidak sampai di situ, kemuliaan itu terus bertambah dengan menjadikan salah satu dari keturunan putranya ini menjadi pemuka para nabi dan rasul, bahkan pemimpin anak-anak Adam.

Dialah Muhammad shallallahu ‘alaihi wassalam

Kalimat ini sangat mudah diucapkan, tetapi sulit diterapkan, kecuali oleh mereka yang diberi kemudahan/taufik oleh Allah subhanahu wa ta’ala.
Kata pepatah Arab,

اَلْبَلَايَا تُظْهِرُ جَوَاهِرَ الرِّجَالِ

“Ujian dan cobaan akan menampakkan kondisi asli seseorang.”

Betapa sering kita mengira bahwa kita ridha kepada Allah sebagai Rabb. Akan tetapi, setelah mengalami berbagai ujian, tampaklah betapa lemahnya kita dalam masalah ini. Kita lebih mengedepankan ridha makhluk yang semisal dengan kita daripada keridhaan Allah.

Terakhir, perlu kita ingat bahwa keridhaan yang tumbuh di hati seorang hamba tidak lain adalah buah dari keridhaan Allah subhanahu wa ta’ala kepadanya. Sebab, segala sesuatu di alam ini adalah makhluk dan berada dalam kepemilikan Allah.

Ketika meridhai seseorang, Allah meletakkan dalam hati orang tersebut keridhaan kepada apa saja yang Dia cintai, lalu dia pun meridhai dan menekuninya. Selanjutnya, Allah pun meridhainya.

Wallahu a’lam.

disyarikan dari QONITAH...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar