Pada awalnya sang hamba Allah berada dalam kegelapan, kejahilan dan kekacauan, bertindak berdasarkan dorongan2 alaminya dalam segala keadaan, tanpa sikap pengabdian terhadap Tuhan-Nya dan tanpa memperhatikan hukum agama.
Dalam keadaan begini, Allah memandangnya penuh kasih, maka dianugerahkan-Nya kepadanya pengingat dari sesamanya, seorang hamba saleh-Nya dan kawan pengingat ini juga terdapat dalam dirinya sendiri. Kedua pengingat ini jaya atas dirinya dan peringatan menimbulkan pengaruh pada jiwanya. Maka noda yg ada padanya, seperti memperturutkan kehendak dirinya dan penentangannya terhadap kebenaran, sirna. Maka condonglah ia kepada hukum Allah dalam segala gerak geriknya.
Menjadilah sang hamba Allah itu seorang Muslim patuh di hadapan hukum-Nya, lepas dari alaminya, membuang hal2 haram duniawi, begitu pula hal2 yg meragukan dan pertolongan orang. Maka ia melakukan hal2 yg halal dalam makan, minum, berpakaian, menikah, bertempat tinggal dll. Semua ini sangat muhim bagi kesehatan jasmani dan bagi mendapatkan kekuatan untuk mengabdi kepada-Nya, agar ia bisa memperoleh bagian amalnya dan orang tak bisa melampauinya.
Maka ia berjalan di atas jalur kebenaran dalam segala keadaan hidupnya, sehingga membawanya ke maqam tertinggi dan menjadikannya pembukti kebenaran dan orang pilihan, yg memiliki pernyataan yg kukuh, yg haus akan hakikat, yaitu Allah.
Maka ia makan sesuai dengan perintah-Nya dan mendengar suara Allah di dalam dirinya berkata: " Campakanlah
dirimu dan campakanlah kesenangan dan ciptaan, jika kau menghendaki sang Pencipta. Lepaskanlah sepatu dunia dan akhiratmu. Nafilah dari segala kemaujudan, hal2 yg akan maujud dan segala dambaan.Lepaslah dari segala sesuatu. Berbahagialah dengan Allah, campakanlah kesyirikan dan ikhlaslah dalam kehendak. Mendekatlah kepada-Nya dengan hormat, dan jangan memandang kehidupan akhirat, kehidupan duniawi, orang2 dan kesenangan. "
Bila ia meraih maqam ini, maka ia menerima busana kemuliaan dari Allah, tersinari kemuliaan dan aneka karunia. Dikatakan kepadanya, busanailah dirimu dengan rahmat dan karunia, jangan berburuk laku menolak dan menampik keinginan, karena penolakan terhadap karunia raja sama dengan menekannya dan meremehkan kekuasaannya. Maka ia terselimuti karunia dan anugerah-Nya tanpa berupaya. Sebelumnya ia terkuasai keinginan2 dan dorongan2 dirinya. Maka dikatakan kepadanya " Selimutilah dirimu dengan rahmat dan karunia Allah."
Maka baginya empat keadaan dalam meraih kenikmatan dan karunia.
Pertama, dorongan alami, ini tak halal, Kedua, kepatuhan hukum, ini diperbolehkan, Ketiga, perintah batin, ini adalah keadaan para wali dan pencampakan keinginan dan Keempat, karunia Allah, ini adalah keadaan lenyapnya tujuan dan tercapainya badaliyya dan keadaan menjadi obyek-Nya, yg berdiri di atas ketentuan-Nya. Ini adalah keadaan tahu dan keadaan memiliki kesalehan, dan tak seorangpun bisa disebut saleh, jika ia belum meraih maqam ini.
Hal ini sesuai dengan firman Allah: " Sesungguhnya waliku adalah Allah yg telah menurunkan Kitab dan Ia adalah Wali orang2 saleh."(QS.12: 196)
Menjadilah ia seorang hamba yg tertahan dari menggunakan sesuatu, memanfaatkan diri dan dari menolak sesuatu yg mudharat baginya. Ia menjadi seperti bayi di tangan perawat dan seperti jasad mati yg sedang dimandikan orang. Maka Allah membiarkannya tanpa kehendaknya dan tanpa upayanya, ia lepas dari segala hal ini, tak berkeadaan, atau bermaqam, tak berkehendak melainkan berada di atas ketentuan-Nya, yg kadang menahan, kadang memudahkannya, kadang membuatnya kaya, dan kadang membuatnya miskin. Ia tak punya pilihan, tak menghendaki berlalunya keadaan dan perubahannya.
Sebaliknya ia menunjukan keridhaan abadi. Inilah keadaan ruhani terakhir yg dicapai oleh orang2 yg memperoleh nikmat yg besar dari ALLAH SWT.
Wallahu'alam biishawab.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar