Senin, 07 Desember 2015

BOLEHKAH PARA WANITA BERZIARAH KUBUR?

Assalamu'alaikum warrahmatullahi wabarakaatuh.
                                                                 Saudaraku yang dirahmati ALLAH...

Hadist Tentang boleh atau tidaknya para wanita berziarah kubur, para ulama berbeda pendapat dalam masalah ini. Di antara mereka ada yang mengharamkan, ada yang memakruhkan, dan ada yang membolehkan.Tentang boleh atau tidaknya para wanita berziarah kubur, para ulama berbeda pendapat dalam masalah ini. Di antara mereka ada yang mengharamkan, ada yang memakruhkan, dan ada yang membolehkan. Adapun pendapat yang lebih kuat adalah pendapat yang menyatakan bolehnya wanita berziarah kubur, namun tidak terlalu sering, hanya sesekali saja(tidak berlebih-lebihan). Pendapat tersebut didasarkan atas beberapa dalil dan argumentasi berikut ini.

Dalil ke-1
Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallambersabda
,نَهَيْتُكُمْ عَنْ زِيَارَةِ الْقُبُورِ فَزُورُوهَا“
Aku dahulu pernah melarang kalian ziarah kubur,maka (sekarang) ziarahlah kalian”(HR. Muslim no. 2305 dalam Kitabul Janaiz Bab “Nabi Meminta Izin ke Rabb-nya untuk Menziarahi Kubur Ibunya”).

Keumuman lafadz ”maka (sekarang) ziarahlah kalian”, mencakup para wanita juga. Karena ketika Nabi melarang ziarah kubur pada masa awal Islam, maka hal itu mencakup laki-laki dan wanita. Oleh karena itu, ketika beliau mensabdakan ”maka (sekarang) ziarahlah kalian”, dapat dipastikan bahwa yang dimaksud beliau adalah kedua jenis ini (laki-laki dan wanita) juga. Kalau hanya ditujukan kepada kaum laki-laki saja, niscaya susunan kalimat akan terasa janggal. Hal ini tidak mungkin terjadi bagi seseorang yang telah dianugerahi jawami’ul kalim(kalimat yang ringkas, bagus, dan maknanya padat mencakup).

Dalil ke-2
Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan doa ziarah kubur kepada ‘Aisyahradhiyallahu ‘anha dengan lafadz
,السَّلاَمُ عَلَى أَهْلِ الدِّيَارِ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُسْلِمِينَ وَيَرْحَمُ اللَّهُ الْمُسْتَقْدِمِينَ مِنَّا وَالْمُسْتَأْخِرِينَ وَإِنَّا إِنْ شَاءَ اللَّهُ بِكُمْ لَلاَحِقُونَ“
Assalamu’alaikum (semoga kesejahteraan atas kalian) wahai penghuni kubur, dari kaum mu’minin dan kaum muslimin. Semoga Allah merahmati orang-orang yang datang lebih dahulu maupun yang datang belakangan di antara kalian Sesungguhnya kami, insya Allah akan menyusul kalian. Kami memohon kepada Allah keselamatan untuk kami dan kalian”(HR. Muslimno. 974)

Hadits ini menunjukkan bahwa dispensasi (setelah sebelumnya dilarang) untuk berziarah kubur juga mencakup bagi kaum wanita, karena Nabi mengajarkan doa tersebut kepada ‘Aisyah.

Dalil ke-3
Persetujuan Nabishallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap perbuatan seorang wanita yang beliau lihat di sisi kubur. Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata,
مَرَّ النَّبِىُّ–صلى الله عليه وسلم–بِامْرَأَةٍ تَبْكِى عِنْدَ قَبْرٍ فَقَالَ«اتَّقِى اللَّهَ وَاصْبِرِى» .قَالَتْ إِلَيْكَ عَنِّى ، فَإِنَّكَ لَمْ تُصَبْ بِمُصِيبَتِى ، وَلَمْ تَعْرِفْهُ.فَقِيلَ لَهَا إِنَّهُ النَّبِىُّ–صلى الله عليه وسلم– .فَأَتَتْ بَابَ النَّبِىِّ–صلى الله عليه وسلم–فَلَمْ تَجِدْ عِنْدَهُ بَوَّابِينَ فَقَالَتْ لَمْ أَعْرِفْكَ.فَقَالَ«إِنَّمَا الصَّبْرُ عِنْدَ الصَّدْمَةِ الأُولَى»
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melewati seorang wanita yang sedang menangis di sisi kubur.

Rasulullah berkata,
’Bertakwalah kepada Allah dan bersabarlah!’

Wanita tersebut berkata, ’Menyingkirlah dariku, karena kamu tidak tertimpa musibah sepertiku’.

Wanita tersebut tidak mengetahui bahwa itu adalah Nabi. Lalu dia diberitahu bahwa yang menegurnya adalah Nabi, maka dia kemudian mendatangi rumah beliau. Dia tidak mendapati penjaga di rumah beliau. Dia berkata, ‘Aku tidak mengetahui bahwa itu engkau’. Maka Nabi berkata, ‘Kesabaran itu hanyalah di awal musibah’”.(HR. Bukhari no. 1283 dan Muslim no. 2179. Lafadz hadits ini adalah milik Bukhari).

Jika ziarah kubur bagi wanita tetap dilarang, maka tentu Rasulullah akan melarangnya secara langsung dan menjelaskan hal itu kepadanya, dan tidak cukup hanya dengan memerintahkannya untuk bertakwa secara global.

Dalil ke-4
Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda
,لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ–صلى الله عليه وسلم–زَوَّارَاتِ الْقُبُورِ“
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat para wanita yang sering berziarah kubur”.(HR. Ibnu Majah no. 1641, 1642, 1643; Tirmidzi no. 1076; dan Ahmad no. 8904)

Kalimat (زَوَّارَاتِ) hanya mencakup ziarah yang terlalu sering. Maka wanita yang hanya ziarah sesekali waktu saja, tidak termasuk dalam larangan ini. Adapun hadits yang menyatakan laknat bagi kaum wanita yang menziarahi kubur dengan lafadz
:لَعَنَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زَائِرَاتِ الْقُبُوْر
ِadalah hadits yang dha’if, karena di dalam sanadnya terdapat seseorang bernama Abu Shalih, yang nama lainnya adalah Badzam.
Lihat penjelasan Syaikh Al-Albani dalam Silsilah Adh-Dha’ifah no. 225 tentang ke-dha’if-an hadits ini.

Dalil ke-5
Perkataan Ummu ‘Athiyyah,نُهِينَا عَنِ اتِّبَاع
ِ الْجَنَائِزِ ، وَلَمْ يُعْزَمْ عَلَيْنَا“
Kita dilarang untuk mengikuti jenazah (ke pemakaman), namun beliau tidak bersungguh-sungguh (dalam melarang)”.
Kalau diperhatikan redaksi perkataan di atas, jelas bahwa larangan tersebut bukan larangan yang bersifat haram, namun bersifat tanzih(lebih baik dijauhi). Kesimpulannya, pendapat yang lebih tepat adalah pendapat yang menyatakan bolehnya wanita berziarah kubur, namun tidak terlalu sering. Pendapat inilah yang dipilih oleh Syaikh Al-Albani dalamAhkamul Janaiz,hal. 229; Syaikh Musthafa Al-‘Adawi dalamJaami’ Ahkaamin Nisa’,1/580; dan Syaikh Salim Al-Hilali dalam Bahjatun Nadzirin,1/92-93.

Wallahu a’lam.

Minggu, 06 Desember 2015

ALLAH MEMBIMBING HAMBA-NYA KEPADA CAHAYA-NYA

Pada awalnya sang hamba Allah berada dalam kegelapan, kejahilan dan kekacauan, bertindak berdasarkan dorongan2 alaminya dalam segala keadaan, tanpa sikap pengabdian terhadap Tuhan-Nya dan tanpa memperhatikan hukum agama.

Dalam keadaan begini, Allah memandangnya penuh kasih, maka dianugerahkan-Nya kepadanya pengingat dari sesamanya, seorang hamba saleh-Nya dan kawan pengingat ini juga terdapat dalam dirinya sendiri. Kedua pengingat ini jaya atas dirinya dan peringatan menimbulkan pengaruh pada jiwanya. Maka noda yg ada padanya, seperti memperturutkan kehendak dirinya dan penentangannya terhadap kebenaran, sirna. Maka condonglah ia kepada hukum Allah dalam segala gerak geriknya.

Menjadilah sang hamba Allah itu seorang Muslim patuh di hadapan hukum-Nya, lepas dari alaminya, membuang hal2 haram duniawi, begitu pula hal2 yg meragukan dan pertolongan orang. Maka ia melakukan hal2 yg halal dalam makan, minum, berpakaian, menikah, bertempat tinggal dll. Semua ini sangat muhim bagi kesehatan jasmani dan bagi mendapatkan kekuatan untuk mengabdi kepada-Nya, agar ia bisa memperoleh bagian amalnya dan orang tak bisa melampauinya.
Maka ia berjalan di atas jalur kebenaran dalam segala keadaan hidupnya, sehingga membawanya ke maqam tertinggi dan menjadikannya pembukti kebenaran dan orang pilihan, yg memiliki pernyataan yg kukuh, yg haus akan hakikat, yaitu Allah.

Maka ia makan sesuai dengan perintah-Nya dan mendengar suara Allah di dalam dirinya berkata: " Campakanlah
dirimu dan campakanlah kesenangan dan ciptaan, jika kau menghendaki sang Pencipta. Lepaskanlah sepatu dunia dan akhiratmu. Nafilah dari segala kemaujudan, hal2 yg akan maujud dan segala dambaan.Lepaslah dari segala sesuatu. Berbahagialah dengan Allah, campakanlah kesyirikan dan ikhlaslah dalam kehendak. Mendekatlah kepada-Nya dengan hormat, dan jangan memandang kehidupan akhirat, kehidupan duniawi, orang2 dan kesenangan. "

Bila ia meraih maqam ini, maka ia menerima busana kemuliaan dari Allah, tersinari kemuliaan dan aneka karunia. Dikatakan kepadanya, busanailah dirimu dengan rahmat dan karunia, jangan berburuk laku menolak dan menampik keinginan, karena penolakan terhadap karunia raja sama dengan menekannya dan meremehkan kekuasaannya. Maka ia terselimuti karunia dan anugerah-Nya tanpa berupaya. Sebelumnya ia terkuasai keinginan2 dan dorongan2 dirinya. Maka dikatakan kepadanya " Selimutilah dirimu dengan rahmat dan karunia Allah."
Maka baginya empat keadaan dalam meraih kenikmatan dan karunia.

Pertama, dorongan alami, ini tak halal, Kedua, kepatuhan hukum, ini diperbolehkan, Ketiga, perintah batin, ini adalah keadaan para wali dan pencampakan keinginan dan Keempat, karunia Allah, ini adalah keadaan lenyapnya tujuan dan tercapainya badaliyya dan keadaan menjadi obyek-Nya, yg berdiri di atas ketentuan-Nya. Ini adalah keadaan tahu dan keadaan memiliki kesalehan, dan tak seorangpun bisa disebut saleh, jika ia belum meraih maqam ini.
Hal ini sesuai dengan firman Allah: " Sesungguhnya waliku adalah Allah yg telah menurunkan Kitab dan Ia adalah Wali orang2 saleh."(QS.12: 196)

Menjadilah ia seorang hamba yg tertahan dari menggunakan sesuatu, memanfaatkan diri dan dari menolak sesuatu yg mudharat baginya. Ia menjadi seperti bayi di tangan perawat dan seperti jasad mati yg sedang dimandikan orang. Maka Allah membiarkannya tanpa kehendaknya dan tanpa upayanya, ia lepas dari segala hal ini, tak berkeadaan, atau bermaqam, tak berkehendak melainkan berada di atas ketentuan-Nya, yg kadang menahan, kadang memudahkannya, kadang membuatnya kaya, dan kadang membuatnya miskin. Ia tak punya pilihan, tak menghendaki berlalunya keadaan dan perubahannya.

Sebaliknya ia menunjukan keridhaan abadi. Inilah keadaan ruhani terakhir yg dicapai oleh orang2 yg memperoleh nikmat yg besar dari ALLAH SWT.

Wallahu'alam biishawab.

Sabtu, 05 Desember 2015

MENGAPA SURAT AT-TAUBAH TANPA DIAWA

Syaikh hafidzahullah menjawab :

نعم كل سورة من القرآن تأتي في بدايتها ‏”‏بسم الله الرحمن الرحيم‏”‏ إلا سورة التوبة، وقد أجابوا عن هذا بجوابين‏:‏

Semua surat dari Al Qur’an diawali dengan basmalah kecuali surat At Taubah, para ulama’  menerangkan sebab hal ini dengan dua jawaban :

الأول‏:‏ أن سورة التوبة مكملة لسورة الأنفال فلذلك لم تأت في بدايتها ‏”‏بسم الله الرحمن الرحيم‏”‏، لأنها مكملة لسورة الأنفال‏.‏

Pertama : sesungguhnya surat At Taubah merupakan lanjutan dari surat Al Anfal, oleh karena itu tidak diawali dengan basmalah, karena ia menyempurnakan surat Al Anfal.

والقول الثاني‏:‏ أن سورة التوبة لم تأت قبلها البسملة لأنها سورة ذكر فيها الجهاد وقتال الكفار وذُكر فيها وعيد المنافقين وبيان فضائحهم ومخازيهم، و‏”‏بسم الله الرحمن الرحيم‏”‏ يؤتى بها للرحمة وهذا الموطن فيه ذكر الجهاد وذكر صفات المنافقين، وهذا ليس من مواطن الرحمة بل هو من مواطن الوعيد والتخويف‏.‏ فلذلك لم تذكر ‏”‏بسم الله الرحمن الرحيم‏”‏ في بدايتها‏.

Kedua : sesungguhnya alasan surat At Taubah tidak diawali dengan basmalah karena isi surat At Taubah tentang jihad dan memerangi orang-orang kafir. Disana juga disebutkan ancaman yang keras terhadap orang-orang munafiq serta penjelasan akan tipu daya mereka. Adapun bacaan basmalah disebutkan untuk sesuatu yang mengandung rahmat. Sedangkan isi surat At taubah yang menyebutkan jihad dan sifat-sifat orang munafiq bukanlah tempat untuk menyebutkan rahmat namun tempat menyebutkan ancaman dan untuk membuat orang takut. Oleh karena itu tidak disebutkan basmalah diawal surat At taubah.

Jadi sebab tidak disebutkannya kalimat basmalah diawal surat At-Taubah, berdasarkan pendapat mayoritas Ulama, adalah karena surat ini berbicara tentang orang-orang kafir dan orang-orang munafik. Mereka diharamkan dari kalimat basmalah dan makna kasih sayang yang terdapat didalamnya.

Surat At-Taubah juga memiliki nama-nama yang lain, yaitu Al-Fadhihah (yang menelanjangi kejelekan) karena isinya menjelekkan sikap orang-orang munafik. Didalamnya terdapat 55 sifat orang munafik yang pernah mereka tunjukkan dimasa Nabi saw. Dinamakan dengan surat Al-Kasyafah (Penyingkap) karena ia menyingkap aib orang-orang kafir dan orang-orang yang enggan memberikan pembelaan terhadap islam. Dinamakan dengan As-Saif (Pedang) karena mayoritas ayat -ayatnya berisi panggilan berjihad, anjuran untuk pergi berperang dan peringatan keras bagi orang yang tidak ikut atau enggan (berpaling) dari peperangan. Dengan demikian, ia merupakan surat yang sangat keras.

Wallahu'alam biishawab !!!

Rabu, 02 Desember 2015

NASIHAT UMAR BIN KHATAB TERKAIT KUNCI REZEKI


Assalamu'alaikum warrahmatullahi wabarakaatuh.
                                                                 Saudaraku yang dirahmati ALLAH...
Rezeki adalah misteri yang amat pasti. Misteri pada kapan diberikannya, tapi pasti diberikan. Misteri pada jumlahnya, tetapi pasti dijatahkan. Misteri prosesnya, tetapi pasti dicurahkan kepada hamba dari Rabb semesta alam.

Maka aspek misteri ini membuat seorang hamba menunduk patuh pada jatah yang diberikan oleh Allah Ta’ala, sedangkan kepastian membuat seorang hamba tak pernah galau apalagi pusing.

Sebab pasti, dan Allah Ta’ala mustahil menyalahi atau mendustai janji-Nya. Di tahap ini, perburuan soal rezeki harusnya sudah selesai. Sebab dijatah, maka tak usah galau. Cukup diusahakan sesuai kemampuan terbaik.

Sesederhana itu. Kelarlah perkaranya. Akan tetapi, dasar manusia, ada saja penyelewengan dan pembangkangan yang dilakukannya. Terkait kemisterian yang pasti ini, penyelewengan manusia, setidaknya ada pada dua perkara.

Pertama, menuhankan sebab. Kedua, menafikan sebab.
Kelompok pertama ini amat giat bekerja. Menurutnya, bekerja adalah satu-satunya jalan agar seorang hamba dilimpahi rezeki dari Allah Ta’ala. Maka, ia mengerahkan seluruh kemampuan ruhani, pikiran, dan fisiknya untuk mendapatkan rezeki.

Pergi pagi, pulang petang, semua dikerjakannya dengan mengabaikan lelah. Meski menggelayut dan amat menyesakkan. Bahkan di malam kelam, saat orang-orang lelap dalam rehat, mereka tetap melakukan kerja-kerja demi mengupayakan rezeki.

Sayangnya, kelompok ini menafikan hal lain yang amat penting terkait rezeki ini; doa atau ibadah.

Nah, atas salah paham terhadap kelompok pertama ini, maka lahirlah kelompok kedua yang hanya mengandalkan doa atau ibadah ritual, lalu menolak aspek usaha sebagai satu di antara sekian banyaknya sebab didatangkannya rezeki bagi dirinya.

Yang dilakukan oleh kelompok ini hanya berdoa. Sepanjang hari,
setiap waktu, di mana dan kapan saja. Selalu berdoa. Hanya munajat. Pikirannya kacau, meski nampak logis, “Jika mau, Allah bisa saja turunkan dua milyar dari langit seketika itu juga.”

Maka kepada golongan kedua ini, ‘Umar bin Khaththab menasihatinya dengan amat tegas, “Janganlah di antara kalian tidak berusaha, lalu berdoa, ‘Ya Allah, kurniakanlah aku rezeki’. Sementara kalian tahu,” lanjut ‘Umar, “bahwa langit tidak akan menurunkan hujan emas atau pun perak.”

Dan sebaik-baik hamba dalam soal rezeki, adalah mereka yang seimbang dan sejalan antara doa dan upaya. Berdoa sekhusyuk mungkin, dan mengupayakan yang terbaik sesuai kemampuannya.

Selanjutnya, dia bertawakkal kepada Allah. Sebab mereka tahu, Allah Ta’ala menyukai hamba-hamba-Nya yang bertawakkal.

12 KEAJAIBAN DARI SHALAT TAHAJUT

Assalamu'alaikum warrahmatullahi wabarakaatuh.
                                                                  Saudaraku yang dirahmat ALLAH, shalat tahajut ternyata mempunyai beberapa keajaiban, diantaranya :

1. Shalat Tahajud sebagai tiket masuk surga
Abdullah Ibn Muslin berkata “kalimat yang pertama kali ku dengar dari Rasulullah Saw saat itu adalah, “Hai sekalian manusia! Sebarkanlah salam, bagikanlah makanan, sambunglah silaturahmi, tegakkan lah shalat malam saat manusia lainnya sedang tidur, niscaya kalian masuk surga dengan selamat.” (HR. Ibnu Majah).

2. Amal yang menolong di akhirat
Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya orang-orang yang bertaqwa berada di dalam taman-taman surga dan di mata air-mata air, seraya mengambil apa yang Allah berikan kepada mereka. Sebelumnya mereka adalah telah berbuat baik sebelumnya (di dunia), mereka adalah orang-orang yang sedikit tidurnya di waktu malam dan di akhir malam mereka memohon ampun kepada Allah).” (QS. Az Zariyat: 15-18)
Ayat di atas menunjukkan bahwa orang yang senantiasa bertahajud Insya Allah akan mendapatkan balasan yang sangat nikmat di akhirat kelak.

3. Pembersih penyakit hati dan jasmani
Salman Al Farisi berkata, Rasulullah Saw bersabda, “Dirikanlah shalat malam, karena sesungguhnya shalat malam itu adalah kebiasaan orang-orang shaleh sebelum kamu, (shalat malam dapat) mendekatkan kamu kepada tuhanmu, (shalat malam adalah) sebagai penebus perbuatan buruk, mencegah berbuat dosa, dan menghindarkan diri dari penyakit yang menyerang tubuh.” (HR. Ahmad)

4. Sarana meraih kemuliaan
Rasulullah Saw bersabda, “Jibril mendatangiku dan berkata, “Wahai Muhammad, hiduplah sesukamu, karena engkau akan mati, cintailah orang yang engkau suka, karena engkau akan berpisah dengannya, lakukanlah apa keinginanmu, engkau akan mendapatkan balasannya, ketahuilah bahwa sesungguhnya kemuliaan seorang muslim adalah shalat waktu malam dan ketidakbutuhannya di muliakan orang lain.” (HR. Al Baihaqi)

5. Jalan mendapatkan rahmat Allah
Abu Hurairah berkata bahwa Rasulullah Saw bersabda, “Semoga Allah merahmati laki-laki yang bangun malam, lalu melaksanakan shalat dan membangunkan istrinya. Jika sang istri menolak, ia memercikkan air di wajahnya. Juga, merahmati perempuan yang bangun malam, lalu shalat dan membangunkan suaminya. Jika sang suami menolak, ia memercikkan air di wajahnya.” (HR. Abu Daud)

6. Sarana Pengabulan permohonan
Allah SWT berjanji akan mengabulkan doa orang-orang yang menunaikan shalat tahajud dengan ikhlas. Rasulullah Saw Bersabda,
“Dari Jabir berkata, bahwa nabi Saw bersabda, “Sesungguhnya di malam hari , ada satu saat yang ketika seorang muslim meminta kebaikan dunia dan akhirat, pasti Allah memberinya, Itu berlangsung setiap malam.” (HR. Muslim)

7. Penghapus dosa dan kesalahan
Dari Abu Umamah al-Bahili berkata bahwa Rasulullah Saw bersabda, “Lakukanlah Qiyamul Lail, karena itu kebiasaan orang saleh sebelum kalian, bentuk taqarub, penghapus dosa, dan penghalang berbuat salah.” (HR. At-Tirmidzi)

8. Jalan mendapat tempat yang terpuji
Allah berfirman,
“Dan pada sebagian malam bertahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu, mudah-mudahan Tuhanmu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji.” (QS. Al-Isra’:79)

9. Pelepas ikatan setan
Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra bahwa Rasulullah Saw bersabda, “Setan akan mengikat kepala seseorang yang sedang tidur dengan ikatan, menyebabkan kamu tidur dengan cukup lama. Apabila seseorang itu bangkit seraya menyebut nama Allah, maka terlepaslah ikatan pertama, apabila ia berwudhu maka akan terbukalah ikatan kedua, apabila di shalat akan terbukalah ikatan semuanya. Dia juga akan merasa bersemangat dan ketenangan jiwa, jika tidak maka dia akan malas dan kekusutan jiwa.”

10. Waktu utama untuk berdoa
Amru Ibn ‘Abasah berkata, “Aku bertanya kepada Rasulullah Saw, “Ya Rasulullah! Malam apakah yang paling di dengar?”, Rasulullah Saw menjawab, “Tengah malam terakhir, maka shalat lah sebanyak yang engkau inginkan, sesungguhnya shalat waktu tersebut adalah maktubah masyudah (waktu yang apabila bermunajat maka Allah menyaksikannya dan apabila berdoa maka didengar doanya)” (HR. Abu Daud)

11. Meraih kesehatan jasmani
“Hendaklah kalian bangun malam. Sebab hal itu merupakan kebiasaan orang-orang saleh sebelum kalian. Wahana pendekatan diri pada Allah Swt, penghapus dosa, dan pengusir penyakit dari dalam tubuh.” (HR. At-Tarmidzi)

12. Penjaga kesehatan rohani
Allah SWT menegaskan bahwa orang yang shalat tahajud akan selalu mempunyai sifat rendah hati dan ramah. Ketenangan yang merupakan refleksi ketenangan jiwa dalam menjalani kehidupan sehari-hari di masyarakat.
Allah Berfirman, “Dan hamba-hamba Tuhan Yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata yang baik. Dan orang yang melewati malam hari dengan bersujud dan berdiri untuk Tuhan mereka.” (QS. Al-Furqan: 63-64)

Keajaiban shalat tahajud sudah terbukti, maka bertahajudlah!
Mungkin masih banyak lagi keajaiban shalat tahajud yang mungkin terlewat dari tulisan ini. Yang pasti shalat tahajud merupakan shalat yang bagus sebagai ibadah tambahan bagi kita.
Subhanallah .. Shalat tahajud benar-benar dahsyat dalam meraih kebaikan dunia akhirat
“Jika matahari sudah terbenam, aku gembira dengan datangnya malam dan manusia tidur karena inilah saat hanya ada Allah dan aku.”
MASYA ALLAH

Maka ubahlah kebiasaan kita kalau pengen rezeki kita lancar, jodoh kita lancar, usaha kita lancar, dam semua apa yang kita inginkan tercapai, maka tahajudlah. Semoga kita semakin semangat shalat tahajud, dan mudah-mudahan segala doa dan hajat kita segera dikabulkan oleh Allah lewat perantara tahajud ini. Aamiin

Marilah kita berdoa, bermunajat kepada Allah. Semoga Allah mengampuni kita, dan menghapuskan kita dari segala dosa yang telah lalu.

Ya Allah,
Ampunilah semua dosa-dosa kami, baik sengaja atau pun tidak, berkahilah kami, ramahtilah kami, berikanlah kami hidayah-Mu agar kami senantiasa dekat kepada-Mu hingga akhir hayat.
Aamiin ya Rabbal’alamin.

MANFAAT SHOLAT BAGI KESEHATAN PARU-PARU


Bismillaahirrohmaanirrohiim.

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Saudaraku yang dirahmati ALLAH.
Setiap aktivitas ibadah, seperti shalat, puasa, zakat, haji yang dilakukan oleh seorang muslim, sejatinya sarana mendekatkan diri kepada Sang Khalik.

Tapi, di luar konteks itu, rupanya bukan sekedar amalan tanpa pengaruh. Bahkan, di lihat dari sisi medis, setiap ibadah yang dilakukan setiap umat muslim menyimpan "Keajaiban Medis" yang dahsyat.
Salah satunya adalah pengaruh gerakan shalat bagi kesehatan tubuh.

Dalam Buku Induk Mukjizat Kesehatan Ibadah, dr. Jamal Elzaky, bahkan menulis bahwa gerakan shalat terutama aktivitas rukuk dan sujud, itu sesungguhnya memiliki pengaruh dan manfaat besar bagi kesehatan paru-paru.

Secara medis, gerakan rukuk dan sujud yang dilakukan berulang-ulang dapat menghilangkan aneka ragam penyakit paru-paru.

Sebab, dalam aktivitas rukuk, lebih tepatnya ketika tubuh dalam posisi membungkuk itu, sekat paru-paru menjadi terbuka.
Dalam posisi itulah, darah dapat mengalir secara sempurna ke paru-paru.
Selanjutnya ketika di lanjutkan dengan aktivitas sujud, darah akan semakin lancar mengalir ke bilik pertama paru-paru.

Jadi, dalam keadaan rukuk dan sujud itulah, darah bisa mengalir ke semua paru-paru, kemudian dalam proses selanjutnya akan memasukkan oksigen untuk menggantikan karbon dioksida.

Proses aliran darah yang bisa mengalir lancar ke semua bagian paru-paru hingga tidak kekurangan oksigen itulah yang dapat menjadikan paru-paru sehat.
Konon, para ahli medis menyebutkan gen kanker dapat mencapai paru-paru tidak lain di akibatkan kurangnya oksigen yang masuk ke paru-paru.
Bahkan keadaan itu bisa menyebabkan timbulnya penyakit lain.

Dunia medis telah menjelaskan dan kini menjadi jelas bahwa gerakan shalat ternyata tidak sekedar aktivitas yang di tuntut syariat, tetapi juga memiliki pengaruh dan manfaat bagi tubuh.

Ketika seorang muslim bersujud memang gerakan itu terlihat seperti sepele dan bahkan "menghinakan " [ seorang menaruh kepala lebih rendah dari pantat ],
namun ternyata mengandung mutiara medis yang besar pengaruhnya bagi kesehatan paru-paru.

Dalam keadaan sujud, kadar udara dalam paru-paru berkurang lantas di gantikan oleh udara yang masuk.
Bahkan posisi tangan ketika sujud pun ikut memberikan sumbangsih bagi kesehatan.
Pasalnya, posisi dua tangan di sisi dada [ ketika seseorang melakukan sujud ], itu akan memudahkan proses pengosongan udara hingga paru-paru bisa mendapatkan amunisi baru berupa oksigen yang lebih banyak untuk di alirkan ke seluruh bagian tubuh.

Jadi, jangan anggap remeh dan sepele gerakan rukuk dan sujud dalam shalat.

Selasa, 01 Desember 2015

GUNUNG PELANGI DI CINA, SALAH SATU BUKTI KEBENARAN AL- QUR'AN


Assalamu'alikum warrahmatullahi wabarakaatuh.

Sahabatku yang dirahmati ALLAH SWT....
Pada umumnya di negeri kita, gunung terlihat hijau gelap karena ditumbuhi oleh pepohonan lebat. kadang juga kuning gelap untuk gunung yang gundul. Sedangkan di Jazirah Arab, gunung umumnya terlihat berwarna coklat kehitaman karena warna batu-batu yang ada di gunung tersbut.

Namun, tahukah kamu jika ada gunung pelangi? Gunung ini tak hanya berwarna hijau atau kuning saja, tapi memang banyak warna yang mewarnainya, sehingga gunung ini disebut gunung pelangi. Hal ini menjadi salah satu kebenaran Alqur'an yang ada pada Surat Fathir Ayat 27.

Ketika turun surat Fathir ayat 27 yang menyebutkan adanya gunung beraneka warna, banyak orang arab yang tak mengetahuinya, bahkan tak bisa membayangkannya. Hal ini wajar karena di Arab gunungnya memang terlihat berwarna kuning keitam-hitaman.

Allah SWT berfirman:

"Tidakkah kamu melihat bahwasanya Allah menurunkan hujan dari langit lalu Kami hasilkan dengan hujan itu buah-buahan yang beraneka macam jenisnya. Dan di antara gunung-gunung itu ada garis-garis putih dan merah yang beraneka macam warnanya dan ada (pula) yang hitam pekat."  (QS. Fathir: 27)

Dalam tafsir Ibnu Katsir, beliau mengatakan : “Dia menciptakan gunung-gunung yang beraneka ragam warnanya sebagaimana yang dapat kita saksikan, ada yang berwarna putih dan ada yang berwarna merah. Pada sebagiannya ada yang bergaris-garis.”

Di atas adalah foto sebuah gunung asli. Yap, inilah gunung pelangi yang dimaksud pada awal artikel tadi. Gunung ini berada di Cina, tepatnya di Provinsi Gansu. Gunung tersebut memili luas sekitar 300 kilometer persegi.

Gunung ini memiliki banyak warna yang bergaris-garis, mulai dari merah, biru, hijau, coklat dan kuning. Oleh karena itu, gunung yang menjadi bagian dari Zhangye Danxia Landform Geological Park itu disebut sebagai Rainbow Mountains (Gunung Pelangi).

Warna-warni dari gunung tersebut berasal dari lapisan batuan berpasir dan mineral dengan berbagai macam warna yang menyatu sejak berjuta-juta tahun lalu, yang kemudian membentuk hamparan gunung berwarna-warni yang sangat mengangumkan seperti sekarang ini.

Sejak tahun 2010, gunung pelangi di Cina ini telah menjadi salah satu UNESCO World Heritage Site, (situs warisan dunia UNESCO), dimana Candi Borobudur juga pernah masuk di dalam UNESCO World Heritage Site. Baca : Heboh penemuan mumi di gunung meksiko

Jika dikaitkan dengan surat Fathir ayat 27 yang berarti "Dan di antara gunung-gunung itu ada garis-garis putih dan merah yang beraneka macam warnanya dan ada (pula) yang hitam pekat." Gunung pelangi di Cina ini adalah salah satu kebenaran Firman Allah SWT.

Surat Fathir ayat 27 ini termasuk surat Makkiyah, yang berarti surat ini turun di Mekah. Lebih dari 14 abad yang lalu surat Fathir ayat 27 turun dan saat itu orang-orang Arab tak tahu ada gunung pelangi di Cina. Jadi, dari mana Nabi Muhammad SAW tahu jika tidak dari Allah, Tuhan semesta alam? Maha benar Allah dengan segala firman-Nya.

Wallahu'alam biishawab!